DWI SATRIYO ANNUROGO : SNI HARGA MATI MENANGKAN SEKTOR AGROINDUSTRI

DWI SATRIYO ANNUROGO : SNI HARGA MATI MENANGKAN SEKTOR AGROINDUSTRI

img
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo

Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia mengikuti Indonesia Quality Expo (IQE) yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada tanggal 12 hingga 15 November 2020 di Jogja City Mall, Yogyakarta.

IQE merupakan media penyebarluasan informasi secara langsung agar Standar Nasional Indonesia (SNI) dapat menjadi “brand” yang membuat masyarakat senantiasa memilih produk ber-SNI sebagai pertimbangan utama.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo di Gresik (12/11/2020) menjelaskan bahwa Petrokimia Gresik yang tengah menjalankan program Transformasi Bisnis telah menerapkan berbagai sistem manajemen berbasis SNI guna meningkatkan daya saing perusahaan.

“SNI adalah harga mati di era persaingan global dan derasnya arus perubahan saat ini, terlebih di tengah wabah Covid-19,” ujar Dwi Satriyo.

Dengan menerapkan SNI dalam setiap proses bisnis, berarti perusahaan memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan telah sesuai, teruji, layak, dan aman, karena memenuhi standar kualitas.

Lebih lanjut, Dwi Satriyo menjelaskan bahwa Petrokimia Gresik memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam membantu pemerintah mewujudkan ketahanan pangan nasonal melalui penyaluran pupuk bersubsidi.

“Sehingga jaminan kualitas produk dan layanan yang kami berikan tidak semata-mata demi keuntungan, tetapi juga untuk memastikan hajat hidup petani dan ketahanan pangan nasional dapat terwujud,” imbuhnya.

Selama hampir separuh abad, Petrokimia Gresik telah berkontribusi dalam memajukan pertanian Indonesia. Tidak hanya melalui penyaluran pupuk bersubsidi, tetapi juga dengan menghadirkan solusi dari hulu hingga hilir, mulai dari pupuk, pestisida, insektisida, hingga benih hibrida, serta beragai layanan lainnya untuk sektor agroindustri.

Saat ini Petrokimia Gresik memiliki 31 pabrik dengan total kapasitas produksi 8,9 juta ton/tahun, dimana hampir setengah kapasitas atau 4,9 juta ton digunakan untuk memproduksi pupuk bersubsidi, sedangkan selebihnya merupakan produk komersial untuk memenangkan persaingan pasar bebas.

“Dengan penerapan SNI, operasional perusahaan menjadi lebih sehat dan efisien. Bahan baku yang digunakan selalu terjaga kualitasnya dan produk-produk yang dihasilkan pun mempunyai daya saing tinggi,” ujar Dwi Satriyo.

Untuk menghadapi tantangan dan persaingan yang semakin ketat dewasa ini, Petrokimia Gresik telah menetapkan strategi efektif untuk memastikan perusahaan tetap tumbuh. Ada tiga strategi pertumbuhan bagi Petrokimia Gresik, yaitu peningkatan kapasitas, rekonfigurasi pabrik yang ada dan pengembangan produk baru melalui pembangunan proyek baru.

Pertama, peningkatan kapasitas dilakukan dengan membangun pabrik baru AlF3 (Aluminium Fluorida) yang rencananya akan dimuali tahun 2021. Dengan adanya pabrik baru ini, kapasitas produksi AlF3 Petrokimia Gresik yang merupakan bahan pendukung peleburan tembaga ini akan meningkat dua kali lipat menjadi 25.000 MT per tahun.

Kedua, perubahan fokus dari single industry firm menjadi related diversified industry melalui hilirisasi produk. Yakni dengan mengoptimalkan pemanfaatan produk samping menjadi produk baru yang memiliki added value untuk mendukung industri lain. Melalui strategi ini, Petrokimia Gresik selain melaksanakan tugas pokok sebagai penopang ketahanan pangan nasional, juga diharapkan dapat berkontribusi memperkuat industri kimia nasional.

“Tahun ini, kami berhasil memproduksi Surfaktan karya anak bangsa yang pertama, ini merupakan terobosan penting yang sangat ditunggu oleh pelaku sektor migas di Indonesia,” tandas Dwi Satriyo.

Bersama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB), Petrokimia Gresik berhasil memproduksi Methyl Ester Sulfonate (MES) yang diberi nama Surfaktan Merah Putih.

MES adalah bio-degradable surfactant yang dapat digunakan di sektor migas (minyak dan gas) untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

Strategi ketiga adalah pengembangan produk baru melalui pembangunan proyek baru. Proyek pembangunan pabrik baru harus bisa memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai perusahaan berbasis related diversified industry. Untuk itu pembangunan pabrik baru akan difokuskan pada hilirisasi produk.

“Dalam kerangka tersebut, Petrokimia Gresik akan segera membangun Pabrik Soda Ash dengan kapasitas 300 ribu ton. Pabrik Soda Ash ini nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia, dan bakal menjadi penopang penting dalam mendukung tumbuh kembangnya industri kaca dan deterjen dalam negeri," ungkapnya.

Dwi Satriyo kembali menegaskan bahwa seluruh proses tersebut dikerjakan dengan senantiasa menerapkan SNI. Hal ini dapat membantu penjualan produk komersial guna memenangkan persaingan global.

Berkat konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam penerapan SNI, Petrokimia Gresik telah berhasil meraih berbagai penghargaan. Bahkan diganjar penghargaan “Grand Platinum” dalam ajang Standar SNI Award 2019 yang digelar Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Grand Platinum merupakan penghargaan tertinggi dan hanya diberikan kepada perusahaan atau organisasi yang sudah tiga kali berturut-turut meraih predikat Platinum dalam ajang SNI Award. Petrokimia Gresik sendiri telah meraih Platinum SNI Award pada tahun 2017 dan 2018.

"Penghargaan ini merupakan bukti nyata atas konsistensi Petrokimia Gresik dalam menerapkan SNI. Ini tentu memicu kami untuk terus meningkatkan komitmen, khususnya di sektor agroindustri dan memicu lahirnya inovasi di segala bidang," tandas Dwi Satriyo. (IBN)

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments