Tingkatkan Mutu Produk dan SDM Untuk Tumbuhkan Industri Baja

Tingkatkan Mutu Produk dan SDM Untuk Tumbuhkan Industri Baja

img
Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA):

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) dibentuk untuk bisa bersama-sama menangani persoalan produksi baja dan besi dari sektor hulu hingga hilir.  IISIA trbentuk dari gabungan beberapa asosiasi diantaranya Gabungan Asosiasi Produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (GAPBESI) dan Asosiasi Pabrik Bilet Besi Beton dan Batang Kawat Seluruh Indonesia (ABBEPSI).

Maksud dan tujuan dibentuknya IISIA untuk menghadapi persaingan bisnis dengan industri baja asing yang mulai masuk ke Indonesia. Hidajat Triseputro, Direktur Eksekutif IISIA, mengatakan, sekitar 200 perusahaan besi dan baja mulai dari hulu hingga hilir telah bergabung dengan IISIA.

Tingkatkan Kapasitas Produksi

Sampai tahun 2020 pemerintah menargetkan industri baja nasional bisa tumbuh hingga 27 juta ton.  Untuk memenuhi target yang diberikan pemerintah, industri baja harus mendongkrak kapasitas rolling mill menjadi 20 juta ton pertahun sehingga dibutuhkan tambahan kapasitas crude steel 10 juta ton per tahun.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Trisepoetro menyatakan, saat ini kebutuhan nasional untuk besi dan baja terus meningkat. Kebutuhan tersebut diantaranya untuk pengecoran, jalan, jembatan dan untuk turunan industri baja seperti baja ringan, kaleng yang kapasitasnya sebesar  4,5 juta ton per tahun.

Hadirnya IISIA juga diharapkan dapat memenuhi target yang telah ditentukan oleh pemerintah. IISIA juga menerapkan standard nasional Indinesia (SNI) pada produk-produk besi dan baja yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang berada dibawah naungannya.

Mengacu Pada Standar

“Kita punya Standart  Nasional Indonesia dan industri sudah mengacu kepada SNI. Contohnya operasi baja kita sudah memenuhi kriteria untuk produksi kapal-kapal apapun, jadi  kita tidak. Pipa-pipa besi yang dirpoduksi juga berkualitas dengan mutu yang baik. Kalau tidak berkualitas kan akan membahayakan masyarakat juga,” papar Hidajat.

Dia menggambarkan betapa pentingnya produk bermutu untuk membangun jembatan dimana besi sebagai penopangnya. Sementara baja-baja yang impor dari Negara luar belum tentu terjaga mutu dan kualitasnya. “Kita bekerjasama  dengan pemerintah untuk selalu mengawasi pasar terutama produk baja yang berkualitas,” tambahnya.

Hidajat menuturkan jika IISIA selalu rutin mengadakan komunikasi langsung dengan pemerintah dan anggota setiap saat untuk mengedepankan produk yang berkualitas dan mengupayakan proyek-proyek infrastruktur bisa menggunakan produk dalam negeri.

Konsolidasi Hulu dan Hilir

“Langkah-langkah kita di tahun 2017 harapan kita bisa30% syukur-syukur bisa bertahap mulai dari 10%. Didukung juga dengan pengamanan regulasi di pasar hilir. Kita juga memberikan pelatihan kepada orang-orang kita untuk bisa mendapatkan sertifikasi dan dilakukan uji  kompetensi. Sehingga SDM bisa sesuai dengan kebutuhan industri baja, karena persaingan di pasar sangat kompetitif,” ujarnya.

Untuk bisa mencapainya, harus didukung keseimbangan antara hulu dan hilir. Dengan konsolidasi antara hulu dan hilir yang kuat maka diharapkan kebutuhan pasar baja nasional bisa dimaksimalkan, dan target untuk 27 juta ton hingga tahun 2020 bisa tercapai.

Situasinya saat ini ketimpangan antara  kapasitas industri hulu dengan hilir, masih terlalu tinggi. Menurut data dari Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), kapasitas industri rolling mill tahun lalu mencapai 15,5 juta ton pertahun. Sementara untuk industri hulunya yaitu pembuatan besi hanya berkapasitas 4,5 juta ton, sedangkan pembuatan baja berkapasitas 9,2 juta ton.

Hal ini yang menyebabkan industri baja nasional tergantung pada impor barang setengah jadi (lempengan) sepert slab, billet, dan bloom. Di sisi lain umumnya tingkat teknologi dan kapasitas pabrik relatif kecil.

Mirip dengan situasi pada industri besi, baja juga menghadapi tantangan serupa. Industri dengan kapasitas 9,2 juta ton itu diharapkan dapat memasok baja untuk memenuhi permintaan baja domestik yang tahun ini diperkirakan tumbuh 3,5% hingga 7% menjadi 14,5 juta ton hingga 15 juta ton.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments