"Sharing Economy", trendsetter baru gaya hidup

"Sharing Economy", trendsetter baru gaya hidup

img
ilustrasi

Kini, terjadi pergeseran cara hidup masyarakat. Khususnya dalam memenuhi kebutuhan akan jasa dan produk tertentu. Mari kita lihat, berapa banyak orang yang sudah tidak lagi pergi ke restoran atau café untuk sekadar membeli makanan dan minuman. Mereka sekarang lebih suka menggunakan jasa gojek. Betapa banyak orang di perkotaan tidak mau repot mengambil dan mengantar barang sendiri. Ibu-ibu rumah tangga enggan mengantar jemput sendiri anak-anak, tapi lebih suka meminta jasa gojek.

Perlahan tapi pasti, pola konsumsi masyarakat di luar negeri juga  mulai berubah. Mereka tidak lagi berfokus pada kepemilikan barang, namun pada konsumsi barang tanpa perlu memiliki barang tersebut. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah sharing economy atau collaborative consumption.

Sharing economy, atau collaborative consumption (Safira, Fitri, SWA 2016) adalah sebuah bentuk model bisnis baru yng dibangun berdasarkan konsep berbagi sumber daya (shared resources). Kemampuan untuk berbagi dari sumber daya yang tersedia ini kemudian memungkinkan konsumen untuk mendapatkan akses terhadap barang atau jasa ketika mereka membutuhkannya, alih-alih harus membelinya dan hanya digunakan ketika mereka membutuhkannya.

Rachel Botsman, seorang ahli dalam bidang collaborative economy, membagi collaborative consumption ke dalam tiga tipe. Pertama, Product Service System yang memungkinkan perusaahaan untuk menawarkan barang sebagai jasa, alih-alih menjualnya sebagai produk. Barang yang dimiliki secara pribadi disewakan kepada perorangan (peer-to-peer). Dengan adanya sistem yang demikian, sedikit banyak telah membuat pergeseran dalam cara individu-individu mengonsumsi sesuatu. Mereka membutuhkan benefit atas sebuah produk, namun mereka tidak perlu untuk memiliki produk tersebut sama sekali.

Tipe kedua, Redistribution Market. Barang yang telah dimiliki sebelumnya dipindahkan dari pihak yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkannya. Dalam beberapa kasus, barang ini dipindahtangankan secara cuma-cuma. Dalam kasus lainnya, barang ini ditukar dengan barang lainnya atau dijual secara komersil, seperti contohnya olx.com atau eBay , toko online yang memungkinkan publik menjual kembali barang-barang pribadi mereka yang tidak terpakai.

Tipe ketiga adalah collaborative lifestyle. Dalam hal ini, individu-individu dengan kebutuhan atau kegemaran yang sama bergabung untuk saling berbagi atau bertukar aset yang tak berwujud, seperti misalnya waktu, ruang dan keterampilan. Seperti misalnya ketika individu menyewakan ruangan sebagai co-working space. Contoh lainnya pada lingkup yang lebih luas adalah aktivitas penyewaan kamar penginapan secara peer-to-peer seperti yang dilakukan oleh AirBnB.

Di kawasan Asia Tenggara sendiri telah bermunculan beberapa perusahaan start-up yang berbasis pada konsep sharing economy. GoJek, misalnya. Model bisnis yang berbasis peer-to-peer sharing ini tengah naik daun saat ini.  GoJek merupakan perusahaan start-up yang menyediakan jasa transportasi dengan ojek, namun perusahaan ini justru tidak memiliki satupun sepeda motor yang difungsikan sebagai ojek.

Di negara tetangga Singapura, iCarsClub, sebuah perusahaan start-up dengan aplikasi car-sharing berbasis lokasi. Selanjutnya,magpalitan.com, sebuah perusahaan start-up yang berbasisi di Filipina. Perusahaan ini memfasilitasi kegiatan barter, pertukaran dan rental atas barang-barang personal yang mencakup gadget, kendaraan, pakaian, bahkan jasa babysitting dan servis komputer.

Model bisnis berbasis sharing economy tidak dipandang sebagai sebuah tren yang pada suatu masa tertentu akan lenyap. Hal ini juga tidak pula dipandang sebagai reaksi sesaat atas pelemahan ekonomi yang terjadi. Lebih dari itu, fenomena ini telah mengubah pandangan pelaku usaha terhadap preposisi nilai yang ditawarkan dan bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhannya.

Inilah saat nya kita semua para pelaku industri dan bisnis untuk bertransformasi. Bumi Indonesia merupakan karunia Tuhan untuk semesta alam, untuk seluruh rakyat. Bukan untuk segelintir atau sekelompok orang per orang. Marilah kita tumbuhkan kesadaran dan tekad untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga dengan ini Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar yang dihormati dan disegani.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments