Menjadi yang Terdepan di Service of Quality Kepolisian

Menjadi yang Terdepan di Service of Quality Kepolisian

img
Komisaris Besar Polisi, Dr. Drs. Muhammad Fadil Imran M.Si.

Komisaris Besar Polisi, Dr. Drs. Muhammad Fadil Imran M.Si. Organisasi terbentuk tentu karena adanya tujuan. Tujuan yang telah ditentukan akan menjadi pondasi pembentukan citra serta kultur dalam organisasi tersebut. Oleh karena organisasi bersifat kolektif maka arah ataupun tujuan organisasi wajib dibawa oleh sebuah kepemimpinan yang mampu mengarahkan kinerja organisasinya untuk mencapai target pencapaian yang telah ditentukan dengan baik. Bersama dengan hal itu, kepemimpinan juga harus mampu menghadirkan budaya organisasi yang  representative dengan visi misi organisasi serta mampu menjawab segala macam tantangan jaman.

Berangkat dari konsep tentang manajemen organisasi tersebut, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, M.Fadil Imran, ingin membawa tujuan organisasi dengan recources yang ada dengan se-efektif dan seifisien mungkin di jajaran yang ia pimpin saat ini untuk mencapai tujuan strategis organisasi secara taktis dan terkini. Selain itu, pendekatan yang humanis dan partisipatif  menjadi  turut menjadi jalan untuk mencapaianya.

Menurut Fadil budaya organisasi di Kepolisian secara umum, mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam rentan waktu dua dekade ini. Fadil yang telah menjalani profesi dalam Kepolisian di tiga era yang berbeda yaitu era orde baru, reformasi dan pasca reformasi, menjelaskan bahwa faktor anggaran yang semakin memungkinkan untuk pengembangan organisasi mulai dari pendidikan Akedemi Kepolisian, laboratorium forensik,  kelengkapan penyelidikan, sampai pengembangan metode penyelidikan menjadi salah satu perubahan signifikan di organisasi Kepolisian. “Belum lagi peningkatan dalam soal transparansi penyidikan. Sekarang pengawas tak hanya dari luar dan dari Kepolisian itu sendiri, masyarakat pun sudah dapat ikut mengawasi,” tambahnya saat ditemui redaksi Majalah The Quality di Diskrimsus Polda Metro Jaya (26/10).

Penguatan Aspek Kultural

Maka dari itu menurut Fadil dengan adanya pengembangan organisasi dan infrastrukturdi  Kepolisian, harus dapat di maintain dengan baik lewat sebuah kepemimpinan yang kompeten serta mampu merubah mindset serta culture-set untuk dapat mengikuti perubahan organisasi serta perkembangan jaman. “Itulah sebenarnya yang paling susah. Dalam Kepolisian sendiri ada tiga pilar yaitu aspek Struktural, Kultural dan Instrumental. Nah aspek kultural ini yang harus mendapat perhatian khusus,” terang Fadil.

Seorang pemimpin yang visioner kemudian yang diungkapkan Fadil menjadi urgensi dalam menjawab tantangan organisasi di tiap-tiap divisi Kepolisian saat ini. “Pemimpin yang visioner sangat dibutuhkan karena memang harus kuat dalam menghadapi tantangan perubahan,” ungkap Fadil. “Responsif pada perubahan, sangat penting sekali saat ini,”imbuhnya. Hal tersebut ia katakan karena mengingat saat ini masyarakat semakin melek akan service quality, termasuk service quality di Kepolisian.

Kembali ke persoalan kultur dalam organisasi Kepolisian yang wajib mendapatkan perhatian khusus, Fadil menekankan ada tiga hal yang sebenarnya sangat universal dalam profesi di Kepolisian . Pertama, yang mengedepankan pencegahan akan adanya kejahatan. Budaya untuk mencegah seseorang untuk menjadi korban dan menjadi pelaku kejahatan itu lebih penting daripada mengungkap sebuah perkara. “Preventing crime itu nomor satu,” tegasnya. Kedua, budaya melayani dimana ini yang justru menjadi core utama Kepolisian. Kemudian yang terakhir yang ketiga adalah integritas atau sering disebut dengan ungkapan polisi bersih. Dengan membawa ketiga hal tersebut maka ini menjadi standar utama untuk menciptakan budaya mutu di Kepolisian. “Maka saya sependapat dengan apa yang dikatakan Pak Kapolri yaitu tentang penguatan budaya di Kepolisian,” tutur Fadil. “Memang itu yang paling krusial di polisi saat ini. Budaya hedonisme, korupsi, penyalahgunaan wewenang dsb, itu yang harus terus kita perbaiki dan perbaiki,” tambahnya.

Fadil lebih mempertegas kembali dengan mengungkapkan bahwa polisi, khususnya di reserse kriminal khusus di bawah kepemimpinannya, harus memiliki moral kompas. Jadi seperti apapun infrastruktur yang dimiliki, selama moral kompasnya masih tidak baik maka tujuan organisasi mustahil akan tercapai. Sementara itu, penguatan moral juga harus dibarengi dengan metode yang tepat seperti dari sisi investigasinya. Bahwa dalam hal ini, scientific investigation harus ditekankan. “Jadi moral kompas tanpa adanya kompetensi juga masih tidak tepat,” terang Fadil.

Peningkatan Mutu Layanan Berbasis Kinerja

Dari sisi output pelayanan untuk masyarakat.Fadil selalu menekankan kepada anggotanya jika perlakuan melayani kepada masyarakat itu perlakukan seperti melayani orang terkasih. “SOP tentang pelayanan tentu kita ada, tetapi jika soul-nya atau tidak ada jiwa dalam pelayanannya maka tidak akan sampai dan diterima dengan sempurna,” tutur Fadil. Beberapa inovasi pelayanan pun telah dilakukan diantaranya yaitu membuat hubungan langsung antara penyidik dengan pelapor dengan opsi lewat telepon, WA, dan email. Hal tersebut untuk mempermudah pelapor jika terhambat persoalan jarak, biaya, dan waktu. Fadil menambahkan jika dapat juga melalui aplikasi. Namun permasalahan yang dilihat oleh Fadil ialah jika membuat aplikasi yang bersifat parsial dan hanya sebatas ide perorangan bukan menjadi keputusan organisasi, begitu penanggung jawab selesai tanggung jawabnya maka berhenti juga aplikasi tersebut. “Belum lagi persoalan pertanggungjawaban anggarannya,” tambah Fadil. Jadi menurut pandangan Fadil, akan lebih efektif dengan peningkatan kinerja personel.

Inovasi pelayanan lainnya ialah bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan (quality of service), Fadil menitikberatkan pada proses-proses penegakkan keadilannya dimana harus berjenjang menggunakan mekanisme berlapis yang lebih professional. Oleh karena itu, sementara kewenangan tetap berjalan sesuai dengan KUHP, quality control  dapat menjadi lebih berperan sehingga  output atau mutu layanannya akan lebih dapat terjamin. Fadil mengungkapkan jika persoalan mutu layanan akan kembali pada komitmen baik dari anggota khususnya dari pimpinan. Standar mutu baik itu lewat dokumen sistem manajemen mutu (ISO 9001) maupun SOP yang telah diserap, Fadil mengakui masih perlu ditegakkan oleh pimpinan. Bahkan Fadil mengakui tetap harus memperhatikan setiap detail yang ada, tidak bisa terlewat sedikitpun. Ditambah persoalan di pemerintahan ialah ketika pimpinan berganti dengan kepemimpinan baru, maka ada beberapa kebijakan  yang tidak diteruskan ataupun diganti. Maka dari itu Fadil menegaskan bahwa peningkatan mutu layanan berbasis kinerja akan lebih efektif serta mampu membangun mindset sebagai upaya jangka panjang serta akan menjadi kultur yang dapat bertahan disepanjang pergantian kepimpinan.

Kunci Sukses Kepemimpinan

Kemudian yang menjadi kunci sukses Fadil sendiri dalam menjalani karier di Kepolisian setidaknya ada beberapa factor ataupun persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, faktor pencapaian atau goal. Setiap tugas dari pimpinan adalah kewajiban yang harus dengan cepat dituntaskan. Prinsip Fadil ialah untuk selalu dapat berbuat terlebih dahulu daripada yang lain. “Act before else,” ujar Fadil. “Selalu berusaha terdepan dalam segala sesuatu,” imbuhnya tegas. Kedua, improve yourself. Hal tersebut ia terangkan dimana faktor pendidikan tinggi yang telah ia tempuh, merupakan sarana untuk pengembangan karakter serta kompetensi. Ketiga, dukungan keluarga. Dukungan orang tua, istri, dan anak menjadi kekuatan serta dorongan untuk selalu konsisten menjalani profesi polisi dengan sebaik-baik nya baik secara kompetensi maupun moral.

Sebagai catatan, Muhammmad Fadil Imran kini berpangkat Komisaris Besar Polisi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus di Polda Metro Jakarta. Beberapa jabatan yang pernah ia emban antara lain sebagai Kapolres KP3 Tanjung Priok, Kasubdit IV Dittipidum Bareskrim Polri, Dirreskrimum Polda Kepri, Kapolres Metro Jakbar. Sedangkan untuk pendidikan sendiri, pria kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1968 tersebut, telah meraih gelar doktor (S3) di FISIP Universitas Indonesia lewat disertasi yang berjudul "Studi Kejahatan Mutilasi di Jakarta (Perspektif Pilihan Rasional dari Lima Pelaku) pada tahun 2014 lalu.

Berbicara mengenai target serta program dalam waktu dekat, selain ingin memberantas kartel perdagangan-perdagangan ilegal, Fadil juga sedang fokus  dalam kejahatan cyber terhadap anak. Hal tersebut menurut Fadil sangat penting untuk saat ini menjadi komitmen Kepolisian karena trend internet dan media sosial yang akan terus naik. “Lewat program kami saat ini yaitu Safe Child On The Internet, tim cyber kami se-intens mungkin  turun ke lapangan bekerja sama dengan KPAI dan Kominfo,” jelas Fadil. “Hal ini yang juga sekaligus sebagai peningkatkan serta pendorong budaya mencegah kejahatan,” tambahnya.  (Ibnu Prabowo)

0 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments