Inisiator Kampus Pembentukan Karakter Sipil Pertama di Indonesia

Inisiator Kampus Pembentukan Karakter Sipil Pertama di Indonesia

img
-

Pengembangan hard skill memang selalu atau wajib diimbangi dengan soft skill. Pendidikan karakter menjadi tahap awal dari serangkaian pendidikan dan pelatihan di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan, Kementerian Perhubungan RI. Sejak direkrut pertama kali, diberikan Diklat Masa Dasar Pembentukan Karakter Taruna yang setiap tahun dilangsungkan selama satu bulan dimana darat, laut dan udara disatukan. Dalam hal ini BPSDM Perhubungan bekerja sama dengan marinir. “Dalam satu bulan pembentukan karakter tersebut, diharapkan peserta didik dapat merubah perilakunya,” ujar Tommy selaku Kepala BPSDM Perhubungan. “Pembentukan karakter ini sangat hebat, dimana lulusan-lulusan SMA yang masuknya  urakan ketika keluar sudah sangat beda sikap dan perilakunya dan para orang tua nya pun mengakui,” tambahnya.

Dalam materi pembentukan karakter tersebut, para siswa dilatih hidup bersama, dilatih saling peduli satu sama lain, dilatih disiplinnya, dan diberikan kemampuan dasar. Hakekatnya ada empat hal tujuan pendidikan karakter menurut Tommy. Pertama, untuk dapat me-manage diri sendiri. Kedua, mampu me-manage hubungan dengan orang lain. Ketiga, mampu membina hubungan dalam lingkungan kerja. Keempat, mampu membina hubungan baik dengan Tuhan. “Itu versi kita dalam hal pengembangan soft skill kompetensi,” tegas Tommy.

Dalam hal ini, Tommy merupakan inisiator pembentukan Balai Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Karakter SDM Transportasi (BP3K) Pasir Jambu, Bandung dan ini menjadi kampus pembentukan karakter sipil pertama di Indonesia. Serta Diklat Masa Dasar Pembentukan Karakter Taruna tersebut juga tercatat  pada Museum Rekor (Dunia) Indonesia (MURI) untuk kategori Pemerintahan: sebagai Kementerian Negara Pertama yang melaksanakan Pelatihan Pembangunan Karakter Terlama dan Jumlah Peserta Terbanyak secara terpadu. 

“Tidak mungkin kompetensi seperti apapun dapat diterima serta dinikmati dengan baik oleh masyarakat jika tidak di-delivery dengan baik lewat karakter melayani yang baik juga,” ungkap Tommy.   “Apalagi Pak Menteri juga menghendaki jika dalam melayani itu harus dengan senyum,” tutup Tommy.

0 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments