Inovasi dan Knowledge Management

Inovasi dan Knowledge Management

img
ilustrasi

Standar ISO 9001 baru saja direvisi dengan diterbitkannya Versi 2015 pada tanggal 23 September 2015. Ini merupakan salah satu versi paling Revolusioner dari ISO 9001 sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1987.

Salah satu perubahan terbaru adalah adanya Klausul Manajemen Ilmu Pengetahuan Organisasi (Knowledge Management). Klausul 7.1.6. Organizational Knowledge seolah menjawab kebutuhan organisasi modern saat ini yang hidup di lingkungan hyperkompetitif.

Di era digital saat ini kemampuan inovasi merupakan kemampuan mengembangkan produk yang belum ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan pesaing, apakah itu merupakan produk baru atau pengembangan fitur-fitur baru pada produk yang telah ada, yang berhasil mempenetrasi pasar karena dari sudut pandang pengguna memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang ditawarkan oleh para pesaing.

Oleh karena itu, kemampuan inovasi sangat terkait dengan pembentukan diferensiasi yang merupakan faktor daya saing perusahaan. Kemampuan ini merupakan faktor yang semakin diperlukan oleh perusahaan untuk mempertahankan posisi pasar di dalam negeri dan mempenetrasi pasar internasional. Seperti tampak pada Gambar 1.1, inovasi pada dasarnya menghubungkan strategi dengan operasi bisnis sehingga sangat dipengaruhi oleh perspektif komersial dan perspekstif teknologi. Dengan demikian, pembentukan kemampuan mengembangkan inovasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting sebagai berikut:

  • Kompetensi – pengembangan suatu produk jasa memerlukan interaksi berbagai kemampuan teknis, perencanaan bisnis, logistik, pemasaran, finansial, dan manajemen. Melalui interaksi tersebut terbentuk kompetensi spesifik yang berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.  
  • Endowment – di samping kompetensi pada umumnya kemampuan inovasi memerlukan bentuk kemampuan lain yang bukan kompetensi, seperti pemilikan knowledge base yang efektif, brand, posisi dan kepercayaan pasar, kedekatan dan reputasi di kalangan pelanggan, kekayaan intelektual, dan jaringan kemitraan.  
  • Pengetahuan teknis dan pasar – di samping kedua faktor penting di atas, pengetahuan tentang berbagai aspek teknis dan pasar yang terkait atau mempengaruhi keberhasilan jasa yang dikembangkan mempenetrasi pasar, juga sangat diperlukan.
  • Lingkungan internal – kondisi internal perusahaan seperti strategi, struktur, sistem, serta kultur perusahaan juga sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan inovasi.

 

Kemampuan ini tidak dapat berkembang secara terisolasi dalam unit pengembangan bisnis, walaupun tentunya Center of Excellence yang bertanggung jawab terhadap service lifecycle management memiliki peran sentral untuk memfasilitasi pengevaluasian prospek suatu konsep inovasi baik secara teknis maupun bisnis, menyusun rencana dan mengkoordinasikan pelaksanaan pengembangannya, serta mengkoordinasikan pengintroduksian inovasi itu ke pasar dengan account partner dan cabang.

Melalui pilar ini dikembangkan berbagai kondisi yang dapat menstimulasi perkembangan inovasi. Seperti yang diilustrasikan oleh  Gambar 4.12, sinergi antara kondisi struktur organisasi, kultur perusahaan, manajemen proses, dan sistem insentif merupakan pendorong perkembangan iklim yang kondusif bagi perkembangan kemampuan inovatif.

Gambar 4.12 - Innovation Enablers

Salah satu unsur pendukung efektivitas kemampuan inovasi adalah pemilikan knowlege management untuk mengelola informasi tentang: (1) lingkungan bisnis seperti pelanggan, pasar, pesaing, kebijakan dan program pemerintah, standar, regulasi teknis; (2) lingkungan internal seperti kebijakan dan strategi perusahaan, standar prosedur operasi, key account, analisis siklus hidup jasa perusahaan, proyek yang sedang  berjalan  dan   yang   telah  selesai,  sumber  daya   yang  dimiliki  perusahaan,  anggaran;

(3) piranti pendukung seperti aplikasi perencanaan anggaran, perencanaan model bisnis dan model finansial, organization effectiveness profiling, organization culture profiling, management skill profiling, competence profiling, personnel behaviour profiling;  (4) teknologi, lisensi, dan laporan teknis, baik internal maupun eksternal; serta (5) berbagai pengetahuan lain yang relevan.

Seperti tampak pada Gambar 4.13, Knowledge Management yang akan dikembangkan merupakan suatu proses interatif dan melibatkan berbagai pihak di dalam organisasi. Melalui proses tersebut terbentuk siklus hidup pengetahuan yang dikelola berdasarkan azas manfaat dengan memperhatikan umpan balik dari pengguna.

Pilar strategik ini merepresentasikan semua upaya perusahaan untuk mempertahankan posisi market leader, mengidentifikasi peluang untuk menyediakan jasa yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, mengembangkan skala bisnis baik melalui kemitraan dengan perusahaan lain atau pertumbuhan organik, serta memperkuat brand dan pengakuan internasional. Oleh karena pilar ini merupakan pengintegrasian semua keberhasilan usaha yang dilakukan pada pilar-pilar strategik lain. Di satu pihak, pilar ini membentuk fokus bagi pengembangan pilar strategik lain, dan di lain pihak keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pelaksanaan pilar-pilar strategik yang lain tersebut. Penentuan fokus dilandaskan pada prospek bisnis, baik pada saat ini maupun di masa mendatang, dengan memperhatikan berbagai faktor seperti nilai ekonomi dan profitabilitas, kompetensi inti dan kemampuan yang dimiliki, pengakuan internasional, serta perluasan pendapatan perusahaan.

Pada dasarnya pertumbuhan dan keuntungan perusahaan ke depan dipengaruhi oleh sejumlah sumber pendapatan sebagai berikut:

  • Pendapatan yang diperoleh dari bisnis yang dilaksanakan sampai saat ini.
  • Pendapatan tambahan yang diperoleh melalui penerapan Account Management System.
  • Pendapatan yang diperoleh dari bisnis baru yang sedang atau akan dikembangkan.
  • Pendapatan dari akuisisi perusahaan lain (in-organic growth).

.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments