Ilmu Saja tidak Cukup

Ilmu Saja tidak Cukup

img
business-inside

Pada Desember 2013 saya pernah menuliskan lahirnya konsumen GENERASI ”C” (Robert Friedrich, Michael Peterson & Alex Koster,2011). Generasi C memiliki ciri dan karakter: connected, communicating, content-centric, computerized, community oriented, dan always clicking. Dengan karakter tersebut, serta posisi mereka sebagai pengguna produk tertentu, jelas mereka menjadi word of mouth. Kalau dalam Teori Net Promoter Score (NPS), para Generasi C ini dapat menjadi pendukung produk tertentu (promoter) yang mereka suka, netral, atau sebaliknya menjadi detractor yang menjelek-jelekkan produk yang tidak mereka sukai atau membuat mereka kecewa.

Semua anggota komunitas di Generasi C adalah generasi kreatif yang rajin memproduksi informasi, berinteraksi satu sama lain melalui jejaring sosial, serta menyebarluaskan pesan apapun sebagai sharing knowledge. Namun ada fakta antithesa dari Generasi C ini. Kreatif, rajin berinteraksi social, cerdas dan cerdik, di satu sisi, namun terkadang banyak yang kurang dalam komitmen, karakter dan keyakinan.  Struggle of Live nya juga kurang greget. Cerita berikut menjadi gambarannya :

Alkisah ada seorang janda beranak tiga yang berhasil membangung jaringan toko roti yang besar, dia ingin ketiga anaknya bisa meneruskan dan menjalankan apa yang telah diraihnya ini, dengan cara menguliahkan ketiga anaknya di perguruan tinggi terbaik. Masing masing anaknya dikuliahkan di perguruan tinggi dengan jurusan berbeda yang nantinya diharapkannya bisa menopang dan meneruskan bisnis toko rotinya itu, mulai dari Keuangan, Manajemen Bisnis, hingga Industri Pangan.

Tahun demi tahun berganti, Sampai tiba waktunya ketika si ibu sudah harus menyerahkan perusahaannya kepada ketiga anaknya. Ketiga anaknya ini adalah Produk Generasi C.

 Apa yang terjadi lima tahun kemudian? jaringan toko roti tersebut malah mati dan bangkrut.

Apa Yang Terjadi Sebenarnya..

Di masing masing perguruan tinggi tempat anak anaknya menuntut ilmu tersebut, sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya tidak mengajarkan hal hal yang bisa membuat toko si ibu tumbuh besar seperti sebelumnya.

Perguruan Tinggi mengajarkan Sains, Ilmu Pegetahuan dan Teknologi. Kalau kita beranjak ke spektrum pendidikan manusia, maka Perguruan Tinggi umumnya lebih besar bobot pembelajaran Aspek Kognitif (Knowledge), dan Konatif (Psikomotoris). Sementara aspek Afektif (Ethics and Attitude) seringkali terpinggirkan.

Kembali ke cerita Toko Roti, sesungguhnya yang dibutuhkan ketiga anak sebagai penerus Toko Roti adalah 5 Aspek (5K) sebagai berikut :

1. KARAKTER

Sesuatu yang unik yang terbentuk dilapangan bersamaan dengan diimplementasikannya visi, misi, strategi, operasionalisasi dan budaya yang dibangun si ibu untuk jaringan toko rotinya.

 2. KOMITMEN

Menyangkut keseriusan si ibu dalam memenuhi harapan para pembeli rotinya, komitmen bisa diwujudkan dalam standar ukuran, rasa, ketersediaan, harga,dan lain lain. Dengan komitmen inilah pelanggan bisa yakin bahwa jika membeli roti dari si ibu, pasti enaknya, pasti ukurannya, pasti harganya, dan pasti ketersediannya.

 

3. KEYAKINAN

Dengan inilah si ibu melangkah di awal usahanya, dia yakin rotinya enak, dia yakin di luar sana orang akan menganggap rotinya enak, dia yakin orang orang akan membelinya, dan dia yakin harga rotinya wajar, sehingga para pembeli bisa memperoleh Value for Money dari roti tersebut.

 

4. KEPATUTAN

Ini bukan masalah benar atau salah, tetapi adalah soal Patut atau Tidak Patut. Kepatutan adalah memberi sesuai kebutuhan, dan meletakan sesuatu pada tempatnya. Dengan Kepatutan inilah si Ibu melayani pelanggannya, menentukan ukuran roti, menentukan harga, kemasan, dan sebagainya.

 

5.KEBERANIAN

Yang terakhir adalah Keberanian, dari sinilah si Ibu memulai usahanya, yaitu mulai dari keberanian untuk memulai. Sekali melangkah dengan keberanian, si ibu akan cenderung memiliki keberanian untuk meneruskan langkah langkah berikutnya. Orang yang memiliki keberanian adalah orang yang bisa sampai ke mana saja, sebaliknya orang yang tidak memiliki keberanian tidak akan bisa kemana-mana.

Dimana kita bisa belajar tentang 5K tersebut? Yang jelas bukan di perguruan tinggi, tetapi bukan berarti perguruan tinggi menjadi tidak perlu, hanya saja TIDAK CUKUP. Demikian pula ilmu ilmu kehidupan perlu kita pelajari, tetapi ilmu saja tidak cukup.

Menuntut ilmu adalah wajib. Dan Allah SWT berfirman perihal menuntut ilmu dituangkan dalam Al-Quran surat Al Mujadalah:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)

 

Ulama terdahulu memberikan panduan, “BELAJARLAH ILMU YANG MENJADI DASAR AMAL”

Maka seperti yang dilakukan oleh si ibu tadi, tentu pada awalnya dia belajar ilmu tentang cara membuat roti, tetapi amal dialah yang kemudian menjadikan rotinya enak, unik, dan menemukan penggemarnya sendiri. Seandainya si ibu hanya belajar cara membuat roti, tetapi tidak membangun amal yang kemudian menjadikannya memiliki skill atau keterampilan yang menjadikannya dapat membuat roti yang enak, maka dari awal toko rotinya tidak akan bertahan lama.

Ketiga anaknya yang memiliki ilmu yang cukup, tetapi gagal meneruskan dan membesarkan toko rotinya, dikarenakan si anak hanya memiliki ilmu, tetapi tidak berhasil membangun skill yang membuat mereka memiliki 5K ,seperti yang dimiliki oleh ibunya.

Barangkali karena ketiadaan pendidikan dan pelatihan 5K ini pula yang membuat Negara kita harus terus prihatin sampai dengan sekarang, Negeri dengan sumber daya alam terbaik dan perguruan tinggi pertanian terbaik tetapi neraca perdagangan pangan kita malah defisit 9.2 Miliar US Dollar.

Kita juga memiliki perguruan tinggi Ekonomi yang sangat Baik dan hebat, tetapi dengan standard kemiskinan 2 US dollar perhari, hampir separuh penduduk kita berada di garis kemiskinan.

Kita juga memiliki perguruan tinggi Teknologi yang termasuk Terbaik, tetapi setelah 67 tahun pasca kemerdekaan, sebagian produk teknologi yang kita pakai masih harus diimpor, mulai dari kendaraan, mesin industry, sampai mainan anak.

Konon negeri ini akan menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi ketujuh terbesar didunia, pada tahun 2030, tetapi ini semua hanya akan bisa terjadi apabila kita bisa menumbuhkan tenaga terampil yang mempu meningkatkan produktivitas rata rata kita 60% diatas rata-rata saat ini.

Untuk meningkatkan ekonomi Negara ini, yang dibutuhkan adalah sama dengan si ibu yang ingin membsarkan toko rotinya, yaitu 5K . kereampilan atau Skill yang menjadi dasar ILMU YANG MENJADI DASAR AMAL, atau AMAL YANG DIDASARI OLEH ILMU. Bila itu semua belum bisa diberikan oleh perguruan tinggi terbaik kita, maka perlu dicarikan solusi, agar tidak lagi sebagian penduduk negri ini jatuh dibawah kemiskinan, agar kita berhenti menggantungkan kebutuhan pangan kita pada impor Negara lain, agar kita mampu memproduksi produk produk berbasis teknologi yang semakin banyak kita perlukan.

Pada akhirnya setelah kita memiliki Ilmu dan Amal yang baik, kita perlu system Tata Negara atau bahkan Tata Dunia yang juga baik. Sistem yang menjamin keadilan dan ditegakkannya SOP (Standard Operating Procedure) dari Sang Pencipta Allah SWT. Bila kita jalankan Negara dengan SOP Allah SWT dijamin rakyat sejahtera, Negara berkemakmuran dan Pemimpinnya juga Amanah. Mari kembangkan 5K mu, tingkatkan kualitas diri kita sampai mencapai potensi tertinggi kita

 

 

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments