Kunci Perubahan Perilaku dan Cara Pikir (3)

Kunci Perubahan Perilaku dan Cara Pikir (3)

img
ilustrasi

Kunci Perubahan Perilaku dan Cara Pikir (3)

Artikel sebelumnya telah membahas tentang komponen pikiran dan fungsinya masing-masing. Saya berharap Anda mulai jelas dan paham mengapa sebuah perilaku terbentuk dalam diri dan melekat sampai bertahun-tahun tak bisa dilepaskan walau secara sadar Anda ingin berubah dan melepasnya.

Di balik sebuah perilaku terdapat sebuah keyakinan yang mendukung perilaku tersebut eksis. Selama seseorang meyakini bahwa merokok membuatnya merasa lebih tenang dan kreatif dalam berpikir maka apapun nasehat yang ia terima tak akan pernah membuatnya berhenti merokok.

Selama seseorang meyakini bahwa dengan membelanjakan uang itu mendatangkan sebuah perasaan dihargai dan diakui maka nasehat apapun untuk membuatnya lebih berhemat dalam membelanjakan uangnya tak akan pernah berpengaruh pada dirinya.

Sekarang bagaimana caranya melepaskan diri dari pola-pola berulang dari kebiasaan buruk? Seperti telah saya jelaskan di bagian sebelumnya bahwa perubahan haruslah terjadi di level yang dalam dari pikiran itu yaitu di level pikiran bawah sadar.

Bagaimana caranya menembus hingga ke level tersebut? Berikut langkah-langkah penting untuk melakukan perubahan sampai ke level pikiran bawah sadar :

  • ingatlah siapa yang pertama kali memberikan ide tentang kebiasaan buruk yang tercipta sekarang? Misalnya jika kebiasaan itu adalah menunda-nunda maka ingatlah siapa yang menjadi penyebab adanya ide tersebut. Orang tersebut pasti memiliki otoritas tertentu atau paling tidak orang tersebut Anda perhatikan ucapannya.

Misalnya saat Anda kecil ibu Anda sering mengatakan, “ Kalau kamu mengerjakan segala sesuatu maka kamu harus memikirkannya dulu berulang kali baru bertindak sehingga tidak mengecewakan orang lain”

Kasus di atas jelas kata-kata sang ibu yang membuat anak selalu memikirkan setiap tindakan berulang kali sampai sempurna barulah ia akan bertindak.  Inilah salah satu pemicu sang anak menjadi penunda yang selalu memikirkan segala sesuatunya sampai “sempurna” lebih dahulu barulah bertindak. Celakanya ini dibawa berlebihan dan karena terbiasa maka jadilah sebuah label dalam dirinya dari teman-temannya.

Setelah Anda menemukan siapa pencetus pertama ide masalah Anda maka lakukan pemaknaan ulang untuk menetralisir keyakinan non-supportif yang Anda miliki.

Misal : ibu saya bisa jadi benar meminta saya untuk berpikir ulang tentang apa yang akan saya lakukan tapi itu tidak berarti harus mengulur waktu dan menunggu semuanya sempurna baru bergerak.

  • Langkah kedua untuk merontokkan kebiasaan buruk atau masalah dalam diri Anda adalah mencari emosi pencetus masalah tersebut.

Misal seorang merokok karena merasa kesepian maka inilah yang harus dimaknai ulang sehingga kekuatannya melemah. Contoh pemaknaan ulang dari kasus tersebut bisa jadi seperti ini : sebenarnya rokok hanyalah menemani saya sementara di saat saya kesepian tapi kesepian itu tak pernah hilang dan tetap ada dalam pikiran saya.  yang sebenarnya terjadi adalah saya kesepian karena saya tanpa sadar mengurung diri dan tidak mau melibatkan diri dengan aktivitas teman-teman

  • Langkah ketiga adalah membuat pemaknaan lain yang lebih baik dari pemaknaan pertama. Ulangi lagi hingga beberapa kali sampai Anda sudah tak punya ide lagi tentang pemaknaan apa lagi yang bisa Anda buat. Hal ini akan memperbesar kemungkinan program baru tadi masuk dan tertanam di pikiran bawah sadar.

Demikianlah tips sederhana yang bisa dipraktekkan siapapun yang awam terhadap dunia teknologi pikiran. Anda mungkin bertanya apakah ada cara yang lebih cepat dan hasilnya lebih permanen? Yaa … tentu saja ada dan biasa saya ajarkan langsung di dalam kelas karena membutuhkan peragaan / praktek langsung.

 

Salam hebat untuk Anda semua

Ariesandi

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments