Peran Akreditasi Mendukung Daya Saing Bangsa

Peran Akreditasi Mendukung Daya Saing Bangsa

img
BSN

Menghadapi berbagai perjanjian perdagangan bebas, seperti yang saat ini tengah kita masuki yakni era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)–yang sudah resmi berlaku sejak 1 Januari 2016, adalah sebuah tantangan tersendiri bagi Indonesia. Diperlukan jaminan kualitas produk nasional yang kuat untuk memastikan keuntungan ekonomi secara nasional. Selain itu, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing sehingga Indonesia berhasil meraih peluang. Era MEA memberlakukan 5 aliran bebas dari Indonesia ke negara ASEAN, begitu sebaliknya. Aliran bebas berlaku untuk barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja. Standardisasi, bersama dengan penilaian kesesuaian dan metrologi diyakini sebagai tiga pilar utama pendukung pembangunan berkelanjutan bagi bangsa Indonesia serta menjadi faktor penting dalam meraih peluang di era MEA dan perjanjian perdagangan bebas lainnya di masa mendatang.

Namun demikian, kepercayaan terhadap produk nasional dan kualitas SDM di pasar dalam negeri, pasar regional maupun internasional hanya dapat dicapai bila pernyataan mutu produk nasional dan kualitas SDM memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Pernyataan mutu yang dinyatakan dalam bentuk hasil uji, hasil inspeksi, hasil sertifikasi hanya akan dapat memperoleh kepercayaan di tingkat regional/internasional bila kegiatan pengujian, inspeksi dan sertifikasi tersebut memiliki kompetensi yang diakui. Sertifikat Akreditasi menunjukkan lembaga penilaian kesesuaian (lembaga sertifikasi, laboratorium uji, dan laboratorium inspeksi) kompeten untuk melakukan kegiatan penilaian kesesuaian baik kegiatan sertifikasi maupun pengujian.

Pengertian akreditasi sendiri adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), yang menyatakan bahwa suatu lembaga, institusi, atau laboratorium memiliki kompetensi serta berhak melaksanakan penilaian kesesuaian. KAN adalah lembaga non struktural yang dibentuk pemerintah dengan tugas menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan dan saran kepada Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi.

KAN memberikan akreditasi kepada lembaga sertifikasi, laboratorium pengujian, laboratorium medik, laboratorium kalibrasi, dan lembaga inspeksi. Lembaga sertifikasi dan laboratorium ini dikenal pula dengan istilah Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK)/ Conformity Assessment Body (CAB). Skema akreditasi yang dimiliki oleh KAN antara lain : LSSM, LSSMKP, LSSHACCP, LSSMKI, LSSMMAK, LSSML, LSE, LPPHPL, LVVGHG, LSPro, LVLK, LSP, LSPO, Laboratorium Penguji, Laboratorium Medik, Laboratorium Kalibrasi, dan Lembaga Inspeksi.

Hingga saat ini, KAN telah mengakreditasi sebanyak 1.365 Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) di Indonesia. Jumlah itu terdiri dari 195 lembaga sertifikasi, 858 laboratorium penguji, 49 laboratorium medik, 217 laboratorium kalibrasi, serta 46 lembaga inspeksi.

Sesuai Undang-Undang No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian,  KAN melakukan perjanjian saling pengakuan melalui kerjasama Akreditasi Internasional untuk menjamin keberterimaan hasil Penilaian Kesesuaian di tingkat internasional. Perjanjian dilakukan melalui penandatanganan saling pengakuan baik berupa Multilateral Recognation Arrangement/MLA maupun Mutual Recognation Arrangement/MRA.

Dengan MLA dan MRA, KAN telah diakui secara formal oleh  sejumlah asosiasi akreditasi internasional termasuk International Accreditation Forum (IAF), Pacific Accreditation Cooperation (PAC), Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC), dan Intemational Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC). Tidak dibutuhkan 2 kali kegiatan penilaian kesesuaian diantara negara-negara anggota penandatangan MLA/MRA. Ini mendukung efisiensi dan tingkat kepercayaan antar negara sehingga daya saing produk dapat semakin ditingkatkan. Oleh karenanya, KAN berupaya mempertahankan pengakuan internasional tersebut, bahkan memperluas pengakuan sesuai dengan kebutuhan, tantangan, dan kebijakan pemerintah.

Pengakuan Akreditasi oleh Internasional bertambah

Kabar gembira datang dari hasil Sidang tahunan ke-22 Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC) dan Pacific Accreditation Cooperation (PAC) yang diadakan di Taipei Taiwan pada tanggal 11-18 Juni 2016. KAN berhasil meraih pengakuan internasional atas akreditasi lembaga sertifikasi personal. Bersama dengan USA, Indonesia adalah yang pertama di dalam mendapatkan pengakuan internasional akreditasi tersebut.

Sidang dihadiri oleh sekitar 200 lebih delegasi yang merupakan perwakilan dari 44 badan akreditasi anggota penuh dan 10 anggota associate APLAC dan 34 anggota penuh dan 7 anggota associate PAC yang berasal dari 37 negara di kawasan Asia Pasifik. Sidang juga dihadiri oleh observer yang berasal dari International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC), International Accreditation Forum dan European cooperation for Accreditation (EA).

Komite Akreditasi Nasional (KAN) selaku wakil Indonesia di forum APLAC dan PAC menghadiri sidang tersebut dengan delegasi yang terdiri dari Ketua KAN –yang juga Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya, Sekretaris Jenderal KAN Kukuh S. Achmad dan Direktur Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi KAN Dede Erawan.

Pertemuan ini membahas berbagai persyaratan teknis dan kebijakan-kebijakan akreditasi regional APLAC dan PAC yang dibahas oleh berbagai komite seperti Technical Committe, Proficiency Testing Committee, Training Committee dan lain-lain. Salah satu agenda utama sidang tahunan APLAC dan PAC adalah perencanaan dan evaluasi pelaksanaan program serta kesepakatan saling pengakuan antar badan akreditasi di kawasan Asia Pasifik dalam skema APLAC Mutual Recoginition Arrangement (MRA) untuk akreditasi laboratorium dan lembaga inspeksi serta PAC Multilateral Recognition Arrangement (MLA) untuk akreditasi lembaga sertifikasi.

Setelah dilakukan evaluasi oleh PAC pada akhir tahun 2015 untuk pengoperasian akreditasi lembaga sertifikasi personal, KAN dinyatakan telah memenuhi syarat sebagai panandatangan PAC MLA untuk akreditasi lembaga sertifikasi personal. Hal ini berarti bahwa skema akreditasi KAN untuk lembaga sertifikasi personal telah diakui di kawasan Asia Pasifik. KAN dari Indonesia bersama dengan IAS dan ANSI dari Amerika Serikat merupakan badan akreditasi pertama yang mendapat pengakuan internasional untuk akreditasi lembaga sertifikasi personal melalui PAC MLA.

Dalam event ini, Ketua KAN dan Ketua PAC Mr. Brett Abraham menandatangani PAC MLA untuk akreditasi lembaga sertifikasi personal pada tanggal 16 Juni 2016. Pengakuan tersebut menambah pengakuan internasional KAN yang telah diperoleh sebelumnya yaitu untuk akreditasi lembaga sertifikasi sistem manajemen ISO 9001, lembaga sertifikasi sistem manajemen lingkungan ISO 14001, lembaga sertifikasi produk dan lembaga sertifikasi sistem manajemen keamanan pangan ISO 22000 melalui PAC dan IAF MLA. Sementara itu, di bidang akreditasi laboratorium dan lembaga inspeksi, KAN telah mendapat pengakuan internasional untuk akreditasi laboratorium pengujian, akreditasi laboratorium kalibrasi, akreditasi laboratorium medis dan akreditasi lembaga inspeksi melalui APLAC dan ILAC MRA.

Dengan diraihnya pengakuan internasional akreditasi Lembaga Sertifikasi Personal (LSP), maka setiap orang (person) yang sudah memiliki sertifikat kompetensi dari  LSP yang telah diakreditasi KAN, kompetensinya diakui di dunia internasional. Itu artinya, apabila suatu saat kita membutuhkan sertifikasi personal, misalnya Microsoft Certification, kita tidak perlu mendapatkannya di luar negeri. Cukup LSP yang ada di Indonesia menerapkan skema sertifikasi personal milik Microsoft, kemudian LSP tersebut diakreditasi oleh KAN, maka setiap orang yang sudah mendapat sertifikat dari LSP tersebut, diakui kompetensinya oleh Microsoft.

Untuk saat ini, LSP yang sudah diakreditasi oleh KAN adalah:

1.  Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi

2.  Pusat Pengujian Mutu Barang

3.  Pusat Standardisasi LIPI

4.  Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T- PC)

5.  USER PLN

6.  Bidang Keteknisan Medik

Dengan begitu, pengakuan internasional Akreditasi LSP, BSN dan KAN siap memfasilitasi kebutuhan rakyat Indonesia akan pengakuan kompetensi secara internasional. Untuk diketahui saja, BSN dan KAN terus menunjukkan semangatnya dalam berkontribusi terhadap standardisasi dan penilaian kesesuaian  di dunia internasional. Target kedepan, BSN dan KAN menginginkan adanya kerjasama dengan skema yang sudah diakui internasional. Seperti adanya LSP di Indonesia yang mengoperasikan skema kompetensi personal yang memang keberterimaannya sudah tinggi. Sebagai contoh Inexindo, yang mengoperasikan IT Engineer menggunakan skema internasional.

Satu hal lagi. Pada Sidang Tahunan ke-22 APLAC dan PAC tersebut juga dilaksanakan pemilihan beberapa posisi di organisasi APLAC dan PAC. Kukuh S. Achmad –kapasitasnya sebagai Sekjen KAN yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi - BSN, telah terpilih menjadi anggota baru APLAC Board of Management bersama-sama dengan Jennifer Evans dari NATA Australia dan Trace Mc Inturff dari A2LA Amerika Serikat. APLAC Board of Management merupakan unsur utama APLAC yang mengendalikan seluruh pengoperasian organisasi APLAC, baik yang terkait dengan pengatuaran saling pengakuan (MRA) maupun hal-hal teknis maupun non teknis lainnya seperti pengendalian pencapaian rencana strategis maupun hal-hal yang berkaitan dengan keuangan APLAC. Dengan posisi itu, KAN diharapkan dapat lebih berperan ke depan dalam menentukan kebijakan akreditasi regional serta penguatan kompetensi akreditasi KAN sendiri.

Badan Standardisasi Nasional

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments