Semen Indonesia Eaih Sertifikatr CER-CDM Project dari UNFCCC

Semen Indonesia Eaih Sertifikatr CER-CDM Project dari UNFCCC

img

Tahun 2016 meninggalkan kenangan manis bagi Semen Indonesia. Proyek Clean Development Mechanism (CDM) yang digagas sejak beberapa tahun terakhir membuahkan hasil. Ini seiring dengan diterbitkannya Certified Emission Reduction (CER) oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 12 Desember 2016.

UNFCCC merupakan badan dunia bentukan PBB yang mengurus isu lingkungan dan perubahan iklim. Sebagai tindaklanjut, Senin (16/1), Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra melakukan penyerahan secara simbolis CER kepada Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog di Kantor Semen Indonesia, Jakarta.

Penyerahan sertifikat tersebut disaksikan oleh Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwihanjono, Staf Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, serta perwakilan dari Swedish Energy Agency (SEA) dan Sindicatum Carbon Capital.

Sertifikat ini diberikan atas kerja nyata Semen Indonesia dalam mengurangi emisi gas buang dan penggunaan bahan substitusi batubara dengan biomass di Pabrik Tuban. Nah, keberhasilan ini mendapat pengakuan dari UNFCCC lewat sertifikat CER. Dalam program CDM, sertifikat itu tak semata berarti pengakuan.

Tetapi sekaligus menjadi bukti transaksi jual beli karena mencantumkan berapa ton emisi gas buang yang mampu dikurangi Pabrik Tuban. Di sertifikat itu tertera, pada periode 25 Februari 2012 – 29 Februari 2016, jumlah emisi yang mampu ditekan seba-nyak 213.717 ton CO2 equivalen.

Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Rizkan Chandra menjelaskan melalui upaya penurunan emisi gas buang yang terintegrasi dan diterapkan di seluruh pabrik, Semen Indonesia pada 2015 telah berhasil menurunkan emisi sekitar 12,7 persen dari baseline 2009, dan ditargetkan turun 22 persen pada 2020.

“Kontribusi ini jauh lebih tinggi ditetapkan pada Peraturan Menteri Perindustrian tentang peta panduan pengurangan emisi CO2 industri di Indonesia sebesar 2 persen pada 2015 dan 3 persen pada 2020,” ujarnya.

Rizkan menerangkan emisi gas buang CO2 di pabrik semen terdapat dalam tiga sumber yakni dari proses kalsinasi bahan baku, penggunaan bahan bakar fosil dan batubara, serta pemakaian energi listrik di pabrik. “Untuk hal pertama, target perseroan adalah mengurangi persentase dari klinker dalam produksi semen sehingga mengurangi emisi CO2, dengan cara penggunaan material adiktif substitusi. Kami menjadi produsen semen pertama yang memproduksi slag di Cigading, Banten, dan terbukti mampu menurunkan klinker hingga 30 persen.

 Kedua, dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mengurangi CO2 di pabrik Tuban, melalui proyek CDM yang ditandai dengan diterbitkannya sertifikat UNFCCC,” paparnya. Selain itu, lanjut dia, Semen Indonesia memanfaatkan gas buang sebagai sumber energi dengan membangun waste heat recovery power generator (WHRPG) di pabrik Indarung sebesar 8 megawatt pada 2014, yang menghasilkan penghematan operasional sebesar Rp 33 miliar per tahun, dan mengurangi emisi CO2 sebesar 42 ribu ton per tahun. “Ini yang pertama dilakukan pabrik semen di Indonesia,” ucapnya.

Semen Indonesia juga sedang membuat fasilitas WHRPG serupa di Tuban, dengan kapasitas 30 MW dan berkontribusi terhadap penghematan biaya operasional sebesar Rp 120 miliar per tahun, serta mengurangi emisi CO2 sebesar 122 ribu ton per tahun. “Di masa mendatang, seluruh pabrik di Semen Indonesia Group, akan menggunakan WHRPG sebagai komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.

Sejak 2009, menurut Rizkan, Semen Indonesia dibantu konsultan ahli di bidang CDM yakni Sindicatum Carbon Capital telah merintis pengurangan emisi gas buang yang berkelanjutan. Pada Mei 2015, dilakukan penandatangan Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) antara Semen Indonesia dan Negara Swedia untuk periode enam tahun yakni 2013-2018. Berdasarkan ERPA, jumlah CER yang telah diperjualbelikan tahap pertama sebesar 193.536 ton CO2 equivalen.

Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog menilai CDM menjadi kunci yang penting dalam upaya untuk mengatasi perubahan iklim yang makin terasa secara global. Dia mencontohkan peningkatan suhu serta sejumlah bencana alam terjadi akibat perubahan iklim. “Pemerintah Swedia terus berkolaborasi dengan negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim. Kami hanya negara kecil, dan berpengaruh tidak luas bagi lingkungan global, makanya kami berinisiatif untuk keluar dan mendukung negara lain,” tuturnya.

Sejak 1999, lanjut dia, pemerintah Swedia aktif mendukung berbagai inisiatif dan menginisiasi 9 kumpulan dana internasional dan memfasilitas 130 project yang bernilai sekitar US$ 300 juta. “Dalam upaya penanggulangan perubahan iklim dibutuhkan contoh yang benar, dan Semen Indonesia adalah contoh itu. CER bisa memberikan contoh substitusi bahan bakar fosil dengan alternatif yang ramah lingkungan. Biomasa yang sebenarnya dianggap sebagai sampah dan menimbulkan masalah bagi pemerintah Indonesia dapat berubah menjadi sumber energi. Pemerintah Swedia mengapresiasi CER Semen Indonesia dan akan terus menjalin kerja sama,” paparnya.

0 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments