Optimisme jewellery Retail ditengah Lonjakan Konsumsi Leisure

Optimisme jewellery Retail ditengah Lonjakan Konsumsi Leisure

img
Jewlery

Ketika santer diberitakan bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami penurunan di tahun 2017, tampaknya hal tersebut berlaku condong untuk pasar menengah ke bawah. Walaupun Badan Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi bahwa yang terjadi bukannya penurunan tetapi melambat, namun pasar menengah ke atas tampak memiliki ceruk nya sendiri. Selain kelas menengah ke atas semakin gemar mengalihkan pendapatannya ke arah investasi, konsumsi untuk leisure tetap terjaga. Kemudian seperti apa kondisi retail untuk pasar kelas menengah ke atas itu sendiri?

Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari non-leisure ke leisure ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015.

Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%.

Lonjakan aktivitas leisure tersebut ternyata memberikan efek kepada produk-produk yang menjadi supporting activity nya seperti pakaian, sepatu, asesoris, bahkan perhiasan.  Menarik untuk dicermati ialah bagaimana perhiasan dengan range harga tinggi dibanding produk-produk penunjang leisure lainnya mampu juga menunjukkan lonjakan transaksinya.

Mengekspresikan gaya hidup semakin marak dijumpai seiring dengan perkembangan media sosial saat ini. Selain sebagai penunjang leisure, perhiasan juga sebagai ekspresi gaya hidup. Salah satu perusahaan retail perhiasan PT.Central Mega Kencana mengestimasikan pasar perhiasan di Indonesia sebesar Rp. 30 triliun dimana didalam angka tersebut yang menjadi target pasar ialah kelas menengah atas yang mencakup seperempat dari total pasar atau sekitar Rp. 7,5 triliun.

PT.CMK menyatakan berhasil menguasai pasar sekitar 30% dengan pendapatan Rp. 2 triliun dan nilai laju pertumbuhan majemuk sebesar 20%. Bahkan dinyatakan oleh Petronella Soan, Chief Operating Officer PT.CMK saat temu wartawan bahwa dalam dua tahun kedepan perusahaan akan melakukan Initial Public Officer (IPO). Perusahaan yang menaungi empat merk perhiasan berlian yaitu Mondial, Frank & Co, Miss Mondial dan The Palace tersebut, telah memiliki 50 rumah perhiasan yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. 

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments