SNI Wajib untuk Minyak Goreng Harus Mengandung Vitamin A

SNI Wajib untuk Minyak Goreng Harus Mengandung Vitamin A

img
minyak goreng

Kementrian Kesehatan pada tahun 2016 mengungkap terdapat 57 persen balita berusia 0-59 bulan di Indonesia mengalami masalah gizi buruk dan sangat buruk. Daerah yang mengalami masalah gizi buruk diantaranya Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua.

Penyebab dari permasalahan tersebut adalah kurangnya Vitamin A dan E. Kekurangan vitamin tersebut mengurangi pertumbuhan, daya tahan tubuh dan kecerdasan. Vitamin A dan E terbesar ada pada CPO. Sementera Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang produksi CPOnya tahun 2017 lalu mencaoai 42 juta ton.

Sayangnya dalam proses pengolahan CPO menjadi minyak goreng, vitamin tersebut mengalami kerusakan dan terbuang. Hal ini tentu sangat ironis, karena banyak masyarakat Indonesia yang kekurangan vitamin A dan E . Bila Vitamin A dan E yang ada pada Sawit di Indonesia bisa dimanfaatkan secara maksimal, tentu akan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah telah menetapkan SNI 7709: 2012 tentag Minyak goreng Sawit. Dalam SNI tersebut didefinisikan bahwa Minyak goreng sawit adalah bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida dari minyak sawit, dengan atau tanpa perubahan kimiawi, termasuk hidrogenasi, pendinginan dan telah melalui proses pemurnian dan dengan penambahan vitamin A.

Namun sampai saat ini wajib SNI belum semua melaksanakan aturan tersebut. Polemik pun timbul dari produsen minyak goreng di Indonesia tentang Fortifikasi Vitamin A pada minyak goreng. Panggah Susanto, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian mengatakan, pihaknya sangat terbuka menerima masukan dari pakar dan asosiasi berkaitan SNI  7709: 2012  untuk kewajiban fortifikasi vitamin A minyak goreng sawit.

Walaupun menurutnya Kementrian Perindustrian ingin aturan ini berjalan mengatur kewajiban kemasan minyak goreng sawit. “Kami mempersilahkan untuk mendiskusikan permasalahan Fortifikasi ini. Pemerintah menunggu hasilnya, untuk hal ini jangan diulur-ulur laksanakan segera,” tegas Panggah saat seminar “Sudah Siapkah Fortifikasi Vitamin A Minyak Goreng Dilaksanakan?”.

Sementara itu Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menambahkan, pihaknya masih meragukan tentang  efektifitas kewajiban fortifikasi vitamin A ini di lapangan.

Sahat mengungkapkan ada sejumlah faktor yang mengakibatkan penambahan vitamin A, diantaranya yang pertama adalahefektifitas fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit sebagai cara delivery vitamin A ke masyarakat, juga menjadi perdebatan. Isu ini terkait dengan stabilitas Vitamin A mulai dari  pabrik sampai ke retailer dan retensi vitamin A pada saat penggorengan.

Kedua menurut Sahat kandungan fortifikan (vitamin A, beta karoten) minyak goreng sawit pasca pabrik sampai  konsumen, yang lebih rendah dari SNI 7709: 2012 Minyak Goreng Sawit. Maka, produsen minyak  goreng Sawit yang mencantumkan label SNI) dapat dituduh sebagai pembohongan publik dan  berpotensi menghadapi gugatan hukum dari masyarakat.

Ketiga adalah  “dengan penambahan Vitamin A” pada SNI 7709: 2012 Minyak Goreng  Sawit, dinilai diskriminatif karena SNI minyak goreng non sawit seperti minyak goreng kelapa (SNI -01-3741-2002), minyak goreng kedelai (SNI 01-4466-1998) tidak diwajibkan penambahan vitamin A.

Keempat dengan kewajiban menambah vitamin A sintetis dan yang saat ini harus diimpor maka kebijakan SNI tersebut mencipatakan ketergantungan baru pada impor Vitamin A.

Dan yang kelima menurut Sahat, dengan adanya kata “penambahan Vitamin  A”, jika tidak ditambahkan  vitamin A (meskipun mengandung fortifikan alamiah beta karoten yang setara dengan aktifitas vitamin A 45 IU/g ) maka suatu minyak goreng tidak dapat digolongkan sebagai Minyak Goreng Sawit sesuai SNI meskipun berasal dari minyak sawit.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments