Sektor Industri Sudah Mulai Bergerak ke Industri 4.0

Sektor Industri Sudah Mulai Bergerak ke Industri 4.0

img
Industri

Indonesia tampaknya serius sekaligus optimis memasuki revolusi Industri ke empat (Industri 4.0). Hal tersebut dibuktikan dengan peluncuran Making Indonesia 4.0 dalam Indonesia Industrial Summit 2018 yang dihadiri Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Bahkan Presiden menaruh harapan bahwa lewat implementasi industri 4.0 tersebut, Indonesia dapat mencapai Top Ten Ekonomi Global pada tahun 2030 salah satunya melalui peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi.

Kementerian Perindustrian sebagai leading sector dalam implementasi industri 4.0 tersebut menyatakan bahwa Making Indonesia 4.0 akan menjadi peta jalan landasan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Khususnya di industri manufaktur sebagai penyumbang PDB terbesar yaitu sebesar 32%, Menteri Perindusterian Airlangga Hartarto menyebut bahwa inovasi dan perubahan terhadap model bisnis yang lebih efisien dan efektif menjadi sangat krusial dalam industri 4.0. Terkait hal tersebut, pihaknya tengah mengidentifikasi kesiapan seluruh sektor industri.

Terkait kesiapannya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara mengtakan bahwa sudah ada beberapa industri yang saat ini telah mengarah ke industri 4.0. Ngakan menyebut perusahaan seperti Garuda Food tengah mengimplementasikannya. Manufaktur dalam bidang makanan dan minuman memang menjadi salah satu sektor dari lima prioritas yang dipromote Kemenperin. Empat sektor lainnya yaitu otomotif, elektronik, tekstil dan kimia. Ngakan mengatakan bahwa kelima sektor tersebut yang kemudian ditargetkan untuk dapat ekspan ke luar negeri  dengan adanya efisiensi dan peningkatan produktivitas di lini produksi.

Di dalam industri manufaktur, produktivitas dan efisiensi sebuah pabrik menjadi salah satu faktor penting. Mengetahui tingkat performa produksi menjadi salah satu hal krusial yang harus dilakukan, karena hal tersebut berkaitan dengan keputusan yang diambil untuk meningkatkan rate produksi. Permasalahannya adalah masih banyak perusahaan manufaktur di Indonesia yang menggunakan cara manual dalam proses pencatatan dan pengawasan performa suatu lini produksi, seperti durasi downtime, alasan downtime, jumlah barang cacat produksi dan masalah lainnya.

Menurut Rio Bagus, Co Founder Machine Vision mengatakan bahwa  masalah yang muncul akibat sistem manual seperti itu adalah keakuratan dan keaslian data yang kurang kredibel. Data yang dihasilkan akan sangat bergantung dari kesadaran operator dan floor manager di mana tingkat human error masih sangat sering ditemukan. suatu sistem yang bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut dengan memanfaatkan teknologi yang terdiri dari sensor-sensor dan komputer embedded yang terintegrasi dan terhubung dengan internet atau biasa disebut dengan sistem Industrial Internet of Things (IIoT).

Rio mengungkapan bahwa sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang inovasi teknologi industri, Machine Vision mendukung program Revolusi Industri 4.0 di Indonesia yang bertujuan membantu pelaku industri manufaktur Indonesia untuk dapat memanfaatkan data produksi yang dapat meningkatkan produktivitas pabrik dan produksi. Bergerak pada bidang Manufacturing Analytic dengan Internet of Things (IoT) dan Big Data, Machine Vision telah siap untuk mewujudkan Revolusi Industri 4.0 di Indonesia.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments