Revisi Aturan BPOM Dianggap Ganggu Investasi

Revisi Aturan BPOM Dianggap Ganggu Investasi

img
istimewa

Rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merevisi kembali sejumlah aturan yang baru berlaku berpotensi mengancam kepastian investasi dalam jangka panjang. Pengamat Industri dan Perdagangan, Fauzi Aziz mengatakan perubahan aturan yang terlalu cepat dapat menimbulkan ketidakpastian hukum.

Pasalnya, investor yang menanamkan dana dalam jumlah besar butuh kepastian berinvestasi melalui aturan yang tidak cepat berubah. Padahal, pemerintah sedang berupaya menghapuskan hambatan-hambatan penanaman modal.

"Prinsip utama regulasi harus memberikan kepastian hukum. Saat dieksekusi juga tidak memerlukan proses panjang. Jika ada rencana revisi aturan, latar belakangnya juga harus jelas. Intinya sebuah regulasi jangan sampai menghambat investasi," ujarnya belum lama ini.

Saat ini, BPOM tengah menggulirkan wacana revisi aturan terkait labelisasi dan iklan produk pangan. Aturan tersebut termasuk di dalamnya mengatur mengenai susu kental manis. Padahal, berbagai aturan yang ada saat ini baru berlaku kurang dari dua tahun.

Menurut Fauzi, khusus susu kental manis tak ada hal signifikan yang membutuhkan revisi aturan. Berbagai diskusi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir juga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Selain itu, di tengah keterbatasan aliran modal asing yang masuk, regulator seharusnya memberikan pelonggaran agar investasi meningkat. Revisi aturan yang terlalu cepat akan membuat investor enggan menempatkan dana di Indonesia.

“Keberlangsungan investasi harus dijaga, jangan sampai investor memindahkan modalnya ke luar negeri,” kata Fauzi.

Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana menambahkan semua pihak harus satu pemahaman dalam upaya mengembangkan perekonomian Indonesia. Dia menilai revisi aturan yang terlalu cepat akan membingungkan pelaku usaha. Apalagi, jika revisi dilakukan dalam waktu kurang dari dua tahun setelah aturan diberlakukan. Dalam periode tersebut, sebuah peraturan sesungguhnya masih dalam tahap pengenalan.

"Kalau diperlukan revisi, peraturan tersebut harus mempermudah dan mempercepat perkembangan bisnis, jangan sampai menghambat," katanya.

Demikian pula dengan rencana revisi aturan labelisasi dan iklan produk pangan yang harus memperhatikan perkembangan ekonomi nasional. Menurutnya, yang terpenting iklan dilakukan sesuai ketentuan yang sudah ada karena khusus aturan iklan susu kental manis sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an.

Dalam situasi saat ini yang diperlukan dari sebuah aturan yakni mendorong agar usaha kecil dan menengah dapat ikut memasarkan produk mereka. "Menggerakkan konsumen dengan iklan itu sangat penting," ucap Teguh.

Sebelumnya, data Kementerian Perindustrian menunjukkan, kapasitas produksi pabrik susu kental manis di dalam negeri mencapai 812.000 ton per tahun dan menyerap 6.652 orang tenaga kerja. Nilai investasi di sektor usaha ini telah menembus Rp5,4 triliun.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments