Petrokimia Gresik Tetapkan Destinasi Sebagai Solusi bagi Agroindustri di Indonesia

Petrokimia Gresik Tetapkan Destinasi Sebagai Solusi bagi Agroindustri di Indonesia

img
Petrokimia Gresik

Pertumbuhan bisnis Petrokimia Gresik tercatat tumbuh sangat baik lewat kinerja luar biasa serta masih memiliki banyak peluang usaha untuk terus dikembangkan. Agar bisnisnya terus tumbuh, Petrokimia Gresik telah menetapkan destinasi, sebagai perusahaan yang memberikan solusi bagi agro industri di Indonesia.

Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (PG), Nugroho Christijanto mengatakan, pertumbuhan bisnis, perusahaan dalam operasionalnya sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama harga gas bumi dan bahan baku lainnya, serta bahan penolong, yang hampir seluruhnya dibeli dengan dolar AS. “Selain itu ada kebijakan pemerintah, dimana tugas utama kami saat ini adalah menyediakan dan menyalurkan pupuk bersubsidi kepada petani,” jelasnya.

Nugroho juga menuturkan, jika melihat tren pertumbuhan bisnis dalam waktu 10 tahun terakhir, kinerja Petrokimia Gresik meningkat sangat signifikan. Pada tahun 2007, perusahaan membuat target R10 T10 (Revenue Rp.10 triliun pada tahun 2010) yang tercapai lebih cepat, yaitu pada tahun 2009. Dan pada tahun 2017 Petrokimia Gresik meraih pendapatan Rp. 23,5 triliun.

Melalui rencana pengembangan dan riset yang matang, PT Petrokimia Gresik dalam 10 tahun terakhir juga telah berhasil mewujudkan dirinya sebagai pionir pupuk majemuk dengan mengembangkan pabrik pupuk NPK sehingga menjadikan PG sebagai produsen NPK terbesar di Indonesia dengan kapasitas 2,7 juta ton per tahun. Sekaligus penguasaan teknologi melalui sejumlah paten untuk produksi pupuk dan bahan kimia.

Walaupun ada sedikit penurunan kinerja dalam beberapa tahun terakhir akibat dinamika perekonomian global, namun Nugroho memastikan jika pada tahun 2018 kondisi tersebut sudah mulai membaik dan perusahaan mencatat kinerja yang positif. “Kami yakin tren akan semakin membaik dan kami juga melihat ada banyak sekali peluang yang bisa direbut oleh PT Petrokimia Gresik,” tambahnya.

Market Share dan Realisasi Ekspor

Tahun 2017 lalu, produk subsidi pupuk jenis ZA dan SP-36 menguasai 100% market share. Hal ini karena di Indonesia hanya Petrokimia Gresik yang bisa memproduksinya. Sedangkan pupuk NPK menguasai 83,4% dan pupuk organik Petroganik 82,2%. “Untuk pupuk komersil, produk unggulan kami adalah pupuk ZK dan NPK, dimana market share ZK sebesar 66,7%, dan NPK sebesar 37,5%. NPK lebih kecil, karena sekitar 80% produksi diprioritaskan bagi subsidi,” papar Nugroho.

Untuk produk kimia, PG memiliki produk unggulan AlF3 dan Gypsum yang masing-masing menguasai market share 99,9% dan 65,9%. Keduanya adalah byproduct dari produksi asam fosfat (bahan baku NPK).  AlF3 adalah bahan penolong industri Aluminium, sedangkan gypsum adalah bahan penolong industri semen.

Realisasi ekspor pupuk tahun 2017 tercatat sebesar 274,373 ton. Angka ini didominasi oleh pupuk NPK, yaitu sebesar 233.790 ton dengan pasar utama di Filipina dan India. Selebihnya adalah pupuk Urea dan ZK. Ekspor yang meningkat 2-3 kali lipat jika dibandingkan dengan ekspor tahun 2016.

Untuk berkompetisi di era global, Direksi Petrokimia Gresik selalu berkomitmen untuk menciptakan perusahaan yang adaptif terhadap berbagai kondisi. PG pun saat ini sedang berproses “revisited our position” atau peninjauan ulang posisi dalam peta bisnis.

Untuk bisa memenangkan kompetisi,PG berusaha menekan Harga Pokok Produksi (HPP) melalui optimalisasi penggunaan bahan baku, selain tentunya mencari bahan baku murah. Kemudian meminimalisir shutdown pabrik, improvement peralatan produksi, serta menekan losses. Untuk memperkuat struktur bisnis. “Kami meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun Pabrik asam fosfat, asam sulfat, amoniak, dan urea yang selanjutnya digunakan untuk bahan baku Pabrik NPK,” tambahnya.

Petrokimia Gresik juga mempersiapkan diri menyongsong era perubahan kebijakan subsidi dengan merubah mindset dan mencari terobosan baru. Seperti mengembangkan produk NPK dimana BUMN ini telah memproduksi 46 jenis formula untuk beragam komoditas.

“Kami juga memiliki kemampuan, fasilitas, serta kerjasama riset untuk menciptakan produk pengembangan, seperti benih, pembenah tanah, pupuk hayati, dekomposer, dan probiotik, serta produk olahan pertanian yang semuanya saat ini sedang ditingkatkan market share-nya,” papar Nugroho.

Upaya ini menurutnya dibarengi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang manufacturing, pemasaran, perdagangan, distribusi, serta kompetensi pendukung lainnya.

Standarisasi dan Budaya Mutu

Standardisasi proses bisnis perusahaan secara global tercantum mulai dari Kebijakan, Pedoman, Prosedur,serta Instruksi Kerja. Perangkat ini memastikan seluruh aspek operasional perusahaan terstandarisasi dan berjalan sesuai sistem. Dengan demikian perusahaan dapat memastikan keberlanjutan operasional dan kualitas produksi barang dan jasa.

Selain standarisasi proses kerja, standarisasi produk melalui Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) juga menjadi salah satu strategi PG untuk meningkatkan daya saing. “Menerapkan SNI dalam proses bisnis berarti memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk yang kami produksi telah sesuai dan layak, teruji, aman bagi lingkungan, dan tentunya memenuhi standar kualitas,” terangnya.

Selain kepercayaan, hal ini tentunya juga akan meningkatkan rasa aman publik terhadap produk yang kami buat. Sehingga konsumen tidak ragu membeli dan menggunakan produk kami. Pada akhirnya, standarisasi ini dapat mendongkrak pendapatan dan laba perusahaan.

Petrokimia Gresik juga menanamkan budaya mutu di dalam perusahaan, melalui Visi perusahaan, yaitu “menjadi produsen pupuk dan produk kimia lainnya yang berdaya saing tinggi dan produknya paling diminati konsumen”. Sedangkan misi perusahaan adalah mendukung penyediaan pupuk nasional untuk tercapainya program swasembada pangan, meningkatkan hasil usaha untuk menunjang kelancaran kegiatan operasional dan pengembangan usaha perusahaan. Mengembangkan potensi usaha untuk mendukung industri kimia nasional dan berperan aktif dalam community development.

Untuk mencapai visi dan menjalankan misi, perusahaan menetapkan tata nilai perusahaan yang telah menjadi budaya kerja setiap karyawan dalam menjaga mutu di berbagai aspek, yaitu safety, innovation, integrity, synergisticteam, dan customer satisfaction.

Nugroho menambahkan, karyawan mengekspresikan hasil karya dari budaya mutunya setiap tahun melalui kegiatan inovasi, baik di tingkat kompartemen maupun perusahaan. Misalnya saja dalam Konvensi Inovasi Petrokimia Gresik (KIPG) 2017/2018, berdasarkan verifikasi internal, tercatat nilai penghematan real sebesar Rp. 66 miliar.

Selain finansial, dampak non-finansial yang muncul adalah semangat, keselamatan, kesehatan kerja, serta kerjasama tim yang meningkat. Pada akhirnya, hal ini tentunya akan meningkatkan daya saing produk dan pelayanan perusahaan kepada stakeholder.

“Terbukti dari hasil survey kepuasan pelanggan, baik produk subsidi, non-subsidi, maupun non-pupuk, perusahaan meraih predikat Puas dengan indeks kepuasan pelanggan berkisar 70-83,” terangnya.

Untuk menjamin keberlanjutan kualitas produk dan pelayanan, Petrokimia Gresik menerapkan berbagai standar mutu, seperti Standar Mutu Sistem Manajemen, Standar Mutu Sistem Keamanan Pangan, Standar Mutu Bahan Baku & Produk, Standar Mutu Manajemen Energi, Standar Mutu Sistem Manajemen Keamanan Pelabuhan, serta berbagai standarisasi produk dan operasional yang seluruhnya telah tersertifikasi oleh lembaga resmi dan kredibel.

Jajaran top manajemen juga berkomitmen terhadap implementasi standar mutu dituangkan dalam rumusan kebijakan Sistem Manajemen, yaitu di bidang mutu (SMM), lingkungan (SML), sistem Kesehatan & Keselamatan Kerja (SMK3), Keselamatan Proses, Energi, halal, keamanan pangan secara terintegrasi.

Kebijakan tersebut merupakan pernyataan dan komitmen manajemen tentang pentingnya kepuasan pelanggan sesuai dengan mutu dan standar yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Kebijakan Sistem Manajemen tersebut dikomunikasikan kepada semua orang yang bekerja pada atau atas nama perusahaan dan tersedia bagi masyarakat yang memerlukan.rus dihadapi.

Saat ini Nugroho mengaku, jika produsen pupuk nasional dihadapkan pada kurang kompetitifnya harga gas, terutama jika dibandingkan dengan harga gas di negara penghasil pupuk seperti Amerika Serikat, Rusia, China, dan Timur Tengah. Tantangan lain adalah fluktuasi harga bahan baku dan nilai tukar rupiah terhadap dollar, serta serbuan pupuk impor dari China.

“Sejumlah perusahaan perkebunan besar pun mulai mendirikan pabrik NPK untuk keperluan sendiri. Sementara itu produksi pupuk dunia saat ini over supply, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam menghadirkan produk bermutu,” ujarnya.

Sebagai informasi, Petrokimia Gresik baru saja menyelesaikan proyek Amoniak-Urea II yang telah beroperasi secara komersil pada bulan Agustus 2018. Melalui pabrik ini PG berharap mampu memenuhi kebutuan amoniak sendiri, sehingga tidak perlu impor. Selanjutnya PG juga menargetkan proyek uprating Instalasi Penjernihan Air (IPA) di Gunungsari Surabaya beserta pipanya rampung untuk mendukung kebutuhan air yang terus meningkat.

“Selain itu proyek gudang inbag 50 ribu ton juga ditarget rampung akhir tahun 2018. Dan masih ada lagi berbagai proyek pengembangan di tahun mendatang yang sasarannya adalah memperkuat struktur dan operasional bisnis untuk meningkatkan daya saing perusahaan,” tutupnya.(adv)

0 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments