Ini yang Harus Dilakukan Bisnis di Tahun 2019

Ini yang Harus Dilakukan Bisnis di Tahun 2019

img
Inventure

Sudah lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia flat cenderung turun. Orang mengira bahwa pertumbuhan yang seakan enggan beranjak dari angka 5% ini adalah bagian dari business cycle dimana siklus “bearish-bullish” akan berulang dengan sendirinya tiap 5 tahun seperti sebelumnya. Fenomana pertumbuhan “FLAT CENDERUNG TURUN” adalah kenyataan kenormalan baru sebagai akibat munculnya ekonomi baru yang disebut “MORE-FOR-LESS ECONOMY”.

2019 adalah tahun dimana dua ekonomi baru yaitu: DIGITAL ECONOMY dan LEISURE ECONOMY mulai menemukan critical mass-nya dan akan menghasilkan “the whole new world” dengan jutaan peluang pasar dan bisnis baru.

Kenormalan baru sudah lamat-lamat menampakkan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya agar bisa “menyalip” pemain lain di tengah kenormalan baru yang akan lahir.

Fenomena pertumbuhan “flat cenderung turun” bukanlah monopoli ekonomi Indonesia. Ekonomi dunia mengalami hal serupa karena “more for- less economy” kini sedang massif menyapu seluruh negara di dunia.

Karena output yang dituntut konsumen adalah produk/layanan yang “more-for-less”, maka pemain yang kompatibel dan survive di era kenormalan baru adalah mereka yang mampu menghasilkan produk/layanan yang “more-for-less”. Untuk mewujudkannya, setiap pemain harus kompatibel dengan NEW RULES OF THE GAME yang disebut ASSET-LIGHT MODEL. Dengan menggunakan teknologi digital, pemain harus menggunakan aset sesedikit mungkin untuk menghasilkan output setinggi mungkin. Istilah kerennya adalah: “UBER OF EVERYTHING”, meng-uberkan semua bisnis dan industri.

Untuk sukses di kenormalan baru Anda harus jeli memanfaatkan geliat DIGITAL+LEISURE ECONOMY. Ingat, dua ekonomi tersebut memiliki rules of the game yang berbeda. Di Digital Economy Anda cenderung menawarkan UTILITY yang mudah diperbandingkan; di Leisure Economy Anda harus menawarkan EXPERIENCE+CONNECTION yang bersifat unik dan personal. Di Digital Economy Anda harus siap bermain di pasar yang terus mengalami COMMODITIZATION; di Leisure economy Anda harus bisa mengungguli pesaing melalui CUSTOMIZATION. Di Digital Economy, TECNOLOGY adalah aset utama Anda. Sementara di Leisure Economy aset Anda adalah HUMAN TOUCH yang otentik dan personal.

Definisi paling mudah dari DISRUPSI adalah “More-for-Less”. Ketika satu pemain berhasil meluncurkan value proposition baru dimana customer benefit naik 10X sementara customer cost turun 10X maka tak terhindarkan lagi disrupsi akan terjadi. Untuk sukses di Digital Economy tak mau Anda harus menciptakan MORE-FOR-LESS VALUE kepada konsumen. Extraordinary value itu bisa tercipta baik melalui: COST VALUE = Manfaat fungsional naik 10X, harga turun 10X,  EXPERIENCE VALUE = User experience naik 10X, harga turun 10X, dan PLATFORM VALUE = nilai produk naik 10X melalui sharing dan network effect.

Untuk bisa menunggangi geliat Digital Economy, perusahaan (khususnya inkumben) harus bergerak cepat melakukan TRANSFORMASI DIGITAL. Kalau tidak bisa organik, bisa dengan cara ANORGANIK. Inilah yang dilakukan oleh Astra di ekosistem industri otomotif. Selain berinvestasi pada Go-jek, Astra melebarkan bisnis digitalnya dengan membangun tiga platform digital: seva.id (marketplace untuk mencari kendaraan), CariParkir (aplikasi untuk mencari tempat parkir terdekat), dan Sejalan (aplikasi ride sharing). Ketiga platform diciptakan Astra untuk memberikan solusi yang relevan, komprehensif, dan customer-centric di ekosistem otomotif. Salah satu strategi cerdas menyalip di kenormalan baru.

Untuk menyalip di kenormalan baru kini banyak pemain membangun EKOSISTEM e-commerce-nya sendiri. BRI misalnya, membangun ekosistem digital melalui e-commerce/toko online sendiri dan melihat nasabahnya dari lensa customer-centric. BRI meluncurkan e-commerce bernama BRI Shop Online yang bekerjasama dengan dinomarket.com. Dengan berbagai macam kemudahan dan manfaat, BRI menciptakan layanan berbasis PLATFORM VALUE bagi konsumennya.

Salah satu strategi menyalip di Kenormalan Baru adalah dengan mengadopsi TEKNOLOGI DISRUPTIF berbasis digital. Misalnya beberapa bank nasional saat ini telah mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI) berbentuk chatbot untuk mengotomasi proses sekaligus memperkaya user experience ke nasabah. Bank BRI memiliki chatbot bernama Sabrina (Smart BRI New Assitant), Bank Mandiri memiliki Mita (Mandiri Intelligence Assistant), dan BCA memiliki Vira (Virtual Asittant). Penggunaan chatbot memiliki banyak manfaat seperti layanan 24 jam, respon yang cepat, dan brand engagement.

Kalau di Digital Economy Anda mengandalkan “Mor-for-Less Value”, maka di Leisure Economy Anda harus bisa menciptakan DEFINING MOMENT dengan cara memberikan EXPERIENCE+CONNECTION. Berikan EXPERIENCE VALUE dengan menciptakan: Moment of Creativity (Cognition) Moment of Happiness (Emotion) Moment of Absorption (Action) Berikan CONNECTION VALUE dengan menciptakan: Moment of [removed]Identity) Moment of Esteem (Recognition) Moment of Absorption (Meaning).

Di tengah era Leisure+Digital Economy, setiap perusahaan harus bertransformasi untuk tetap relevan. Salah satu strateginya adalah GOING LEISURE yaitu menyuntikkan unsur leisure dalam aktivasi brand. Misalnya Pegadaian yang core business-nya adalah gadai dan emas berinovasi membuka coffee shop “The Gade” untuk merebut hati segmen milenial agar mengenal produk-produk Pegadaian yang dianggap “old”. Shell yang notabene adalah SPBU tak ketinggalan membuka coffee shop di area pom bensinnya. Hal ini dilakukan semata untuk tetap relevan dengan konsumen milenial. “At the end, EVERY BUSINESS IS LEISURE BUSINESS.” Jika tidak menyuntikkan leisure ke dalam brand DNA, maka brand Anda tak akan relevan lagi di mata milenial.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments