TINGKATKAN PENGAWASAN BAJA IMPOR TAK BERSTANDAR

TINGKATKAN PENGAWASAN BAJA IMPOR TAK BERSTANDAR

img
istimewa

Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag, Veri Anggrijono angkat bicara tentang baja impor yang masuk ke Indonesia. Menurutnya produk baja ini sangat di perlukan oleh masyarakat di Indonesia untuk pembangunan rumah dan infrastruktur. Jika kebutuhannya sudah dapat memenuhi kebutuhan Kemendag akan melakukan pengurangan impor.

"Sepanjang industri dalam negeri dapat memenuhi persyaratan dan kita juga tidak bisa melarang impor,” kata Veri. 

Kemendag juga sangat ketat dalam melakukan pengawasan baja impor yang tidak memiliki standar. Salah satunya melakukan pengawasan dan tim pengawas Kemendag melakukan secara rutin baik di pusat, Provinsi, Kabupaten Kota sehingga peredaran barang atau produk baja yang tidak sesuai dengan  SNI akan ditindak. 

“Kita lihat secara umum di daerah-daerah ini banyak kita temukan produk baja khusunya beton, kita berikan sangsi dan beberapa kita sudah perintahkan penarikan barang, pemusnahan dan kalau memang di temukan pelanggaran-pelanggaran dan dianggap membahayakan kita akan proses lebih lanjut,” terang Veri di kantornya.

Kemendag pun mencatat  kebutuhan dan kapasitas produksi nasional  cukup banyak,  yang menjadi masalah menurut Veri adalah dipersoalan harga, yang tidak bisa bersaing dengan baja impor. “Kita sepanjang industri dalam negeri itu bisa bersaing harganya, dan jumlah suplainya berkesinambungan kita akan arahkan untuk menggunakan produk dalam negeri. Masalahnya sekarang harga mahal, jadi pelaku industri lebih memilih menggunakan baja impor,” terangnya.

Untuk mengawasi baja-baja impor Kemendag melakukan pengawasan di pasar melalui kebijakan seperti nomor pendaftaran barang dan Kemendag mewajibkan importir wajib memiliki nomor pendaftaran barang sehingga dapat teridentifikasi produk-produk impor yang berasal dari luar.

“Kita juga mewajibkan mereka memiliki sertifikat tanda SNI dan  juga nomor pendaftaran barang, serta kebijakan paket regulasi,” terang pria berkacamata ini. “Tanpa itu semua ilegal,” tambahnya.

Untuk pengawasan di pelabuhan, per 1 Februari 2018 ada kebijakan pemerintah dengan melakukan deregulasi untuk menggeser pengawasan 21 komoditas termasuk baja yang terkena larangan dan pembatasan (lartas) impor ke post-border. Pengawasan dilakukan terhadap 2.642 kode Harmonized System (HS) di post-border perusahaan pengimpor  yang mana harus memiliki surat persetujuan impor.

Untuk mengatasi importir-importir nakal, Kemendag akan menyiapkan satu sistem indefikasi kepada importir-importir yang memasukan barangnya namun tidak mempunyai kelengkapan dokumen. “Kita juga menggerakkan dan mendidik teman-teman di daerah untuk menjadi petugas pengawas dan menambah personel pengawas,” tambahnya.

Veri juga akan membuat kantor regional atau unit pelaksanaan teknis khusunya di pelabuhan-pelabuhan  yang bisa mengidentifikasi tempat keluar masuknya barang. “Untuk rencana ini kita akan segara mungkin dalam semester ini sudah terbentuk,  ada 6 daerah dan pengawasan pelabuhan ,Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Bekasi. Bekasi ini untuk wilayah Jabodetabek,” tambahnya.

Temuan-temuan terkait baja impor tidak berstandar akan diproses, sangsi awal awal akan dilakukan pencabutan  surat persetujuan impor dan jika butuh bukti selanjutnya yang tidak sesuai SNI, sesuai dengan undang-undang konsumen akan di tindak lanjuti. “Ada beberapa kasus yang sedang kita proses dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kita bisa limpahkan ke Kejaksaan,” tambah Veri.

Untuk meningkatkan daya saing baja lokal, Veri sangat menganjurkan untuk produk-produk lokal di sertifikasi. Dengan ini diharapkan produk-produk lokal dapat bersaing, karena produk-produk luar yang masuk ke Indonesia sudah memiliki standar di Negaranya.

Terkait persaingan baja Nasional, Veri juga mengatakan, sepanjang harganya bisa dipenuhi, selain itu memperhatikan ketersediaan bahan baku sehingga produk lokal bisa benar-benar dapat bersaing.

0 Comments

Relevant Articles

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments