Terapkan Standar pada Keseluruhan Proses Manufaktur

Terapkan Standar pada Keseluruhan Proses Manufaktur

img
istimewa

Menjaga kepercayaan konsumen dengan menerapkan standar mutu adalah modal dasar PT Mega Andalan Kalasan (MAK) dalam mengayuh roda bisnisnya. Dalam perjalanan selama lebih dari 30 tahun, MAK berhasil menduduki posisi sebagai perusahaan manufaktur terdepan dalam inovasi peralatan medis.

Produk yang lebih baik, pengiriman yang lebih cepat, proses yang lebih efisien. Prinsip itulah yang selalu dijadikan acuan.

Perusahaan yang berdiri sejak 1988 ini berawal dari rasa prihatin atas permasalahan ketersediaan alat medis di Indonesia, khususnya kebutuhan tempat tidur rumah sakit berkualitas tinggi, dengan harga yang lebih terjangkau, yang mampu menangani kondisi rumah sakit di Indonesia. Berbekal kompetensi di bidang teknologi mekanik, MAK hadir memberikan solusi kebutuhan tersebut.

Buntoro, Pendiri  PT Mega Andalan Kalasan mengaku, membangun kepercayaan konsumen akan keunggulan produk yang dihasilkan perusahaannya bukanlah hal mudah. Selama 10 tahun, yaitu sekitar 1988-1998, MAK menghadapi banyak kerikil dan batu sandungan. Jatuh, bangun, hingga akhirnya dapat berdiri tegak. Inilah masa paling serius bagi MAK.

“Kami betul-betul beroperasi sebagai engineering and manufacturing. Fokusnya pada rekayasa dan pabrikasi khusus untuk peralatan rumah sakit atau hospital funiture,” cerita Buntoro.

Namun kesabaran dan ketekunan selalu berbuah manis. Seiring dengan perhatian pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, sejak 1998, ouput yang diterima MAK terus meningkat. “Itu seratus kali meningkatnya dan menjadi suatu perkembangan yang menggembirakan karena industri ini tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat,” kata Buntoro.

Saat ini MAK memiliki fasilitas produksi yang lengkap di Yogyakarta, yang mampu menciptakan varian lengkap peralatan rumah sakit. MAK secara konsisten melakukan investasi dan meningkatkan kompetensi untuk menciptakan produk berkualitas tinggi.

MAK mendesain dan memproduksi komponen utama secara mandiri, serta terus meningkatkan kompetensi industri melalui unit-unit mandiri dengan spesialisasi khusus. Spesialisasi unit yang dikembangkan adalah Engineering, Komponen Logam, Plastic Part, Castor, dan Hospital Equipment.

Setiap unit dilengkapi dengan teknologi manufaktur terbaru berupa mesin laser, las robot, CNC, dan CAD/CAM. “Investasi pada teknologi senantiasa kami lakukan untuk menjamin akurasi proses dan kualitas produk,” kata Buntoro.

Komponen pendukung diproduksi oleh jaringan industri yang dibina oleh MAK. Jaringan ini dikelola secara kuat untuk memastikan kualitas produk dan efisiensi waktu produksi. Melalui kekuatan internal dan jaringan industri, MAK mampu menjadi yang terdepan dalam inovasi peralatan medis.

“Selama lebih dari dua dekade, MAK bisa dikatakan unggul dalam bidang teknologi dan kapabilitas produksi. Kami mendesain dan memproduksi seluruh komponen utama secara mandiri untuk merespon perubahan secara cepat sekaligus menjaga kualitas produk. Kami menyediakan solusi lengkap untuk ruang rawat inap, kebutuhan klinis, operasi, ruang gawat darurat, serta couch dan homecare. Melalui pemahaman mendalam terhadap dunia medis, MAK menjadi yang terdepan dalam industri peralatan rumah sakit,” beber Buntoro.

MAK menerapkan standar sejak awal tahap desain hingga akhir dari proses manufaktur. “Seluruh produk MAK menerapkan Standar Nasional Indonesia secara mandiri dengan pengujian sesuai dengan parameter SNI, baik dari segi fungsi dan kekuatan maupun mutunya,” ungkap Buntoro.

Menurutnya, penerapan standar sangatlah penting, untuk menjamin kepercayaan dan perlindungan konsumen terhadap kualitas dari produk yang digunakan. “Terutama untuk produk yang berkaitan dengan keselamatan pengguna. Jelas, kualitasnya harus benar-benar teruji,” kata Buntoro.

Terkendala Kurangnya Laboratorium Penguji

Dalam menjalankan bisnis, MAK memiliki integritas dalam memberikan produk berkualitas kepada konsumen. Beberapa sertifikat Sistem Manajemen Standar telah ada di genggamannya, antara lain ISO 9001:2008 tentang Sistem Manajemen Kualitas  dan ISO 13485:2012 Sistem Manajemen Kualitas - Peralatan Medis.

MAK juga bertanggung jawab kepada karyawan melalui implementasi OHSAS 18001:2007 mengenai Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Tanggung jawab MAK kepada pemerintah dibuktikan dengan penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar di DIY.

MAK menerapkan ISO 14001:2004 mengenai sistem manajemen perusahaan yang ramah lingkungan. “Kami membangun fasilitas pengolahan limbah cair, serta konsisten menjaga kualitas udara, suara, dan air sumur di sekitar pabrik,” kata Buntoro.

Untuk menjaga kualitas produk, MAK juga membangun fasilitas laboratorium pengujian secara mandiri, dengan mengantongi sertifikat ISO/IEC 17025:2008 (SNI ISO 17025:2005) tentang Persyaratan Umum untuk Kompetensi Lab. Pengujian dan Lab. Kalibrasi yang diterbitkan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Inisiatif tersebut dilakukan lantaran kurangnya fasilitas dari pihak terkait untuk melakukan uji kelayakan dari produk yang dihasilkan oleh MAK.

“Permasalahan SNI  ini bukan dari permasalahan sertifikat tapi masalah pengujian terhadap produk. Apakah sudah memenuhi syarat atau belum? Sesuai klausul SNI atau belum? Permasalahannya adalah tidak ada lab pengujinya. Misalkan, Castor tempat tidur rumah sakit itu ada SNI-nya tapi tidak ada lab pengujinya. LPK-nya pun tidak ada. Akhirnya, kita buat lab penguji sendiri yang diakreditasi oleh KAN.” ujar Buntoro.

Buntoro berharap agar pemerintah bisa lebih concern terhadap produk dalam negeri dan menyetop impor. Ia yakin, kualitas produk hasil karya anak bangsa mampu berdaya saing dengan produk luar negeri dan mampu menguasai pasar domestik.

“Penguasaan pasar domestik kami sampai 60%, walaupun di sini ada PMA jepang dan kami bersyukur bisa bersaing. Kami juga mengekspor 20% dari hasil produksi kami. Kesimpulannya, masyarakat Indonesia sangat menghargai produk dalam negeri. Jika kapasitas produksi nasional sudah memenuhi, seharusnya izin edar impor disetop. Pemerintah harus sadar bahwa peningkatan impor ini terjadi karena peran dari pemerintah sendiri yang membiarkan produk impor masuk ke indonesia akibat terjadi devisit neraca perdangangan,” tutur Buntoro. (Reportase: F.Purwanto)

0 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

0 Comments